Orang bijak sering berujar, cinta tidak mengenal usia. Tak heran banyak wanita muda yang memutuskan menikahi pria tua. Meski banyak sisi positifnya, mereka rawan konflik.
Seringkali kita menjumpai pasangan suami-istri yang usianya terpaut cukup jauh. Sang suami yang lebih pantas menjadi ayahnya, memiliki istri yang masih muda nan cantik. Terlepas dari aneka pandangan miring masyarakat, banyak wanita merasa lebih asyik memburu pria tua karena lebih dewasa berpikir, ngemong, dan relatif mapan secara finansial. Meski banyak 'menguntungkan', banyak pula kerikil yang harus disingkirkan.

Beda Dekade, Beda Pemikiran
“Budaya timur meyakini, hubungan yang pas adalah pasangan suami istri yang usia si laki-laki lebih tua dari si wanita. Pasalnya secara psikologis, wanita memiliki kedewasaan dua tahun dari usia sebenarnya. Tapi ini berbeda jika usia mereka terpaut jauh,” tutur konsultan pernikahan Fenny Listiana S Psi MM dari Sparta Education Surabaya.

Memang, banyak wanita yang memutuskan menikahi pria dengan umur setara atau memiliki selisih umur lima sampai enam tahun. Tapi tidak sedikit pula wanita yang justru kepincut dengan pria 'kebapakan'. Istilahnya abege, angkatan babe gue. Ini yang harus diwaspadai. Pada angka inilah, pernikahan beda usia menunjukkan jurang pemikiran.
“Mereka memiliki era yang berbeda, sehingga ada beberapa perbedaan mendasar yang dimiliki masing-masing pasangan,” lanjut Fenny.

Perbedaan tersebut meliputi kebiasaan, pola pikir, minat, value, dan dekade. Akibat perbedaan-perbedaan inilah, tak jarang menimbulkan konflik di antara pasangan. Dan bila dibiarkan begitu saja, akan menjadi rangkain bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.
“Ada sebuah proses yang harus disikapi di antara kedua pasangan Salah satunya adalah konsep hubungan yang jelas. Maklum, tak satupun pasangan yang ingin dikendalikan pasangan lainnya,” tegas Fenny.

Contoh sederhana, saat hendak pergi ke sebuah pesta, si suami memaksa si istri memakai kebaya yang bermodel tua agar cocok dengan dirinya. Dan sebaliknya, si istri meminta agar suaminya lebih gaul dalam berpakaian. Dituturkan Fenny, contoh kasus tersebut bisa memicu konflik berkepanjangan. Untuk itu, harus disikapi dengan bijak lewat pengenalan jati diri masing-masing pasangan.

Mematikan Aktualisasi Diri
Pasangan beda usia yang memutuskan untuk menikah tentu ada sisi positif dan negatifnya. Label masyarakat yang terlanjur melekat pada pria yang lebih tua adalah ia lebih matang, berpikir secara dewasa, mapan secara ekonomi, memiliki karier bagus, lebih sabar, hingga lebih tegas. Padahal tidak semua pria usia dewasa demikian.
“Nah, suami yang lebih tua pun dianggap lebih care dan bisa ngemong pasangannya. Ini kadang menjadi alasan wanita menikahi pria yang lebih tua,” kata Fenny.
Meski demikian, sisi negatifnya tidak selalu berkonotasi jelek. Artinya setiap perbedaan di antara pasangan bisa diatasi dengan saling berkomunikasi. Koordinasi dan komitmen dibutuhkan di antara mereka.
Umumnya, saat menikah dengan pria yang berusia lebih tua, si wanita akan mengalami perubahan dengan sendirinya. Misalnya cara berbicara lebih santun, lebih menjaga sikap, dan berusaha melakukan tanggung jawab sosialnya dengan baik. Apalagi bila sang suami memiliki kedudukan yang cukup tinggi.
Namun ada pula yang merasa stres dengan perubahan mendadak yang terjadi dalam dirinya. Ini terutama terjadi pada pasangan yang aktualisasi dirinya dimatikan,” tegasnya.
Yang harus terus diingat, perbedaan dekade juga memicu munculnya sikap otoriter. Tak jarang salah satu pasangan lebih powerful atau over proteksi terhadap pasangan yang lain. So, pemahaman terhadap pasangan benar-benar sangat dibutuhkan. tis

Jangan Menjadi Orang Lain
Meski usia jauh berbeda, ikatan pernikahan tetap dipertahankan oleh mereka yang saling mencinta. Berikut tips dari Fenny Listiana S Psi MM, Konsultan Sparta Education Surabaya untuk menjaga kelangsungan pernikahan :
Be yourself. Risiko menjalin sebuah hubungan adalah siap dengan perubahan. Demikian pula saat menikah dengan pasangan yang lebih tua. Perubahan ini harus bisa diimbangi dengan tepat. Meski berubah, Anda harus tetap menjadi diri sendiri.
Negosiasi. Saat ada superioritas dari salah satu pasangan, harus bisa didiskusikan dengan bijak. Di sinilah proses negosiasi dibutuhkan. Tunjukkan dengan sikap dewasa dan proaktif.
Bersiap menghadapi konflik. Semakin jauh perbedaan usia pasangan, semakin banyak konflik yang menyertai.
Tunjukkan rasa kasih sayang. Kasih sayang yang dimaksud di sini bukan seperti gaya berpacaran anak muda yang harus ditunjukkan terang-terangan. Misalkan sikap sabar suami diimbangi dengan hal yang sama.
Siap-siap dengan status baru. Menikah dengan seseorang yang lebih tua akan memiliki budaya yang berbeda, apakah itu status sosial maupun status lainnya.
Menjajagi pasangan. Saat tiga bulan pertama merupakan masa untuk menjajagi kepribadian pasangan. Baik itu karakter dan untuk membentuk komitmen jangka panjang dalam biduk rumah tangga.

-------
sumber: Surya