FENOMENA PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA


Tampaknya ada perubahan yang bersifat revolusioner melihat perkembangan perilaku seksual yang dialami oleh remaja masa kini. Betapa tidak, hasil polling di beberapa media massa menunjukkan adanya kecenderungan sikap permisif remaja terhadap perilaku seks bebas atau perilaku seks di luar nikah. Sedangkan diketahui bahwa pola-pola perilaku tersebut sebetulnya merupakan suatu larangan yang ditetapkan secara normatif dan menjadi pegangan bagi sebagian masyarakat.


Namun demikian membanjirnya informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perilaku seksual baik yang tersalurkan melalui media cetak atau elektronik, sedikit banyak memberikan pengaruh terhadap terjadinya perubahan perilaku seksual pada remaja. Terlebih terbukanya kesempatan kerja bagi kedua orang tua untuk meningkatkan penghasilan di bursa tenaga kerja, dan longgarnya jalinan hubungan kekerabatan dengan masyarakat sekitar, semakin mengurangi kemampuan kontrol diri remaja dalam mengekspresikan dorongan seksualnya. Maka dari itu tampaknya perlu adanya pembicaraan yang bersifat interdisipliner agar dampak-dampak negatif dari pola perilaku seksual remaja dapat diantisipasi sedini mungkin.

1. Perkembangan Seksualitas Remaja

Barangkali selama perjalanan perkembangan masa remaja, tidak ada fenomena yang sedramatis dan memiliki pengaruh besar sebagaimana perwujudan dari perkembangan perilaku seksual pada remaja. Pada periode perkembangan seksual, remaja mengalami dua jenis perkembangan utama, yaitu perkembangan seks primer yang mengarah pada kemasakan organ seksual (ditandai oleli "mimpi basah" atau menstruasi); dan perkembangan seks sekunder yang mengarah pada perubahan ciri-ciri fisik. (misalnya timbulnya rambut-rambut pubis, perubahan kulit, otot, dada, suara, dan pinggul). Kedua perubahan ini menuntut adanya proses penyesuaian.

Hasil penelitian membuktikan bahwa perubahan dalam aspek biologis, psikologis, dwi sosiologis secara bersama-sama menentukan terbentuknya pengalaman seksual bagi remaja. Secara biologis, perubahan hormonal pada laki-laki membangkitkan minat yang tinggi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perilaku seksual. Berbeda dengan perempuan, adanya perubahan hormonal ini pengaruhnya tidak terlalu tampak secara langsung. Terlebih kondisi ini didukung oleh faktor sosiologis, di mana pengekspresian dorongan seksual pada laki-laki (Hubungan seksual atau masturbasi) terkesan lebih ditolerir dibandingkan dengan bila hal tersebut dialami oleh kaum perempuan. Memang, pengekspresian dorongan seksual pada kaum perempuan tidak terlalu jelas bentuknya, sebab biasanya dialihkan ke hal-hal lain. Namun bila dorongan ini ingin tersalurkan, maka hal tersebut dilakukan berdasarkan atas adanya ikatan emosional yang dalam. Sedangkan bagi laki-laki, ikatan emosional dengan pasangan bukan merupakan landasan utama.

2. Makna Perilaku Seksual Bagi Kehidupan Remaja.

Sebagian ahli mempertanyakan alasan keterlibatan remaja dalam berbagai perilaku seksual yang membuatnya terjebak pada risiko yang berkaitan dengan aspek sosial, emosional, maupun kesehatan. Turner dan Feldman (Dusek, 1996) menemukan bahwa alasan yang melandasi perilaku remaja adalah berkaitan dengan upaya-upaya untuk pembuktian perkembangan identitas diri; belajar menyelami anatomi lawan jenis, menguji kejantanan, menikmati perasaan dominan, pelampiasan kemarahan (terhadap seseorang), peningkatan harga diri, mengatasi depresi, menikmati perasaan berhasil menaklukkan lawan jenis, menyenangkan pasangan, dan mengatasi rasa kesepian.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemahaman remaja mengenai dampak personal dan interpersonal dari perilaku seksual yang dilakukan tampaknya tidak menjadi bahan pertimbangan.

3. Minat Remaja Seputar Masalah Seksual.

Satu stereotip yang menonjol pada remaja adalah mereka sangat berminat bila membicarakan, mempelajari, atau mengamati hal-hal yang berkaitan dengan masalah seksual. Ada lima topik yang diminati remaja dalam upaya memenuhi rasa ingin tahunya mengenai masalah seksual, yaitu pembicaraan tentang:
a. Proses hubungan seksual
b. Pacaran
c. Kontrol kelahiran
d. Cinta dan perkawinan
e. Penyakit seksual


Kebanyakan remaja beranggapan bahwa proses hubungan seksual itu adalah faktor yang bersifat indepeiiden, tidak terkait dengan penyakit seksual atau kehamilan. Dengan sifat "egocentrisme" yang masih dimiliki membuat remaja berfikir baliwa terjadinya penyakit seksual atau kehamilan itu tidak terjadi pada "ku" (remaja), tetapi hal tersebut terjadi pada orang lain.

4. Sikap Terhadap Perilaku Seksual.

Ada pergeseran nilai mengenai hubungan seksual sebelum nikah. Hal ini utamanya terjadi pada kaum perempuan. Bila sebelumnya ada anggapan bahwa hubungan seksual hanya dilakukan jika ada hubungan emosional yang dalam dengan lawan jenis, namun saat kini kondisi tersebut telah berubah. Hasil penelitian Shali dan Zeinik (Dusek, 1996) menunjukkan bahwa 79,1% kaun perempuan (usia antara 15-19 tahun) setuju dilakukannya hubungan seksual walaupun tidak ada rencana untuk menikah; 54,7% setuju hanya bila ada rencana menikah; dan 10,7% tidak setuju adanya hubungan seksual sebelum menikah.

Namun demikian, perilaku seksual remaja sebenarnya tidak hanya terbatas pada jenis hubungan seksual sebelum nikah, tetapi perilaku seksual yang lain, misalnya petting (90% remaja terlibat pada "light" petting, 80% remaja terilbat pada "heavy" petting); dan masturbasi, menunjukkan frekuensi yang tinggi pula.

5. Prevensi

Mengingat bahwa remaja memang tidak bisa dihindarkan dari topik-topik seputar masalah seksual, maka tampaknya perlu dicari upaya-upaya yang bersifat menyeluruh terhadap pemberian pemahaman mengenai masalah seksual pada remaja. Sehingga pembahasan materi tidak hanya terbatas pada masalah kontrasepsi, kehamilan, dan penularan penyakit seksual, tetapi perlu juga dikaitkan dengan konteks kehidupan personal dan interpersonal yang dijalani remaja dalam kehidupan sehari-hari.