Sejalan dengan pesan suci Alquran "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan dalam kerahasiaan," (QS Al-A’raf: 55).
Ayat tersebut mengandung perintah kepada kita agar mengistikamahkan diri berdoa dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut. Tidak berlebihan dalam berdoa. Wajar, terukur, dan teratur.
Di sini, penting diyakini bahwa berdoa dengan suara lembut sangat terpuji menurut pandangan Allah dan Rasul-Nya. Sebab, suara yang lembut bisa menambah kehadiran hati dan mengantarkan diri untuk berbaik sangka pada Allah.
Doa adalah kunci bagi setiap kebutuhan, tempat beristirahat bagi mereka yang membutuhkan, tempat berteduh bagi yang terimpit, kelegaan bagi perindu. Dengan berdoa, pintu-pintu langit akan terbuka, segala musibah akan teratasi, dan kebahagiaan akan teraih secara sempurna.
Doa adalah otak ibadah. Bila dipanjatkan dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan hati serta membuang sifat keangkuhan dan ketamakan, pasti Allah akan mengabulkan.
Di sisi lain, doa merupakan kunci bagi kebutuhan seseorang dan gerigi kunci tersebut adalah makanan yang halal. Seorang wali besar yang bernama Abu Bakr-Muhammad Dawud ad Dinawary pernah memberikan wejangan spiritual kepada pengikut beliau: "Perut merupakan tempat berkumpulnya semua makanan". Bila yang dilemparkan ke dalam perut adalah makanan halal, anggota tubuh akan muncul dengan gerak amaliah yang saleh. Bila makanan yang dimasukkan syubhat, jalan menuju Allah SWT akan kabur. Bila makanan yang dimasukkan sesuai selera, akan ada hijab antara dirinya dengan Allah.
Tegasnya, dengan menjaga makanan melalui filter agama, manusia akan terjamin dari kecemasan serta kesedihan dan berhak mengibarkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Itu semua harus kita pahami bahwa kehidupan manusia mempunyai banyak dimensi. Tidak bisa diukur melalui lahiriah saja. Tapi, dimensi rohani harus dibangun, dirawat, dan diperhatikan sebagaimana mestinya.
Melalui puasa, akal akan menjadi cerdas, pikiran meningkat, peluang hidup sehat akan terbuka. Bila dilakukan sebagaimana mestinya, puasa akan menghilangkan kemunduran cara berpikir kita yang sering terjebak merasa paling benar sendiri dan gampang menyalahkan orang lain.
Upaya berbagi kesejahteraan harus dilakukan melalui suatu proses terus-menerus tanpa henti guna meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita yang menjadi korban berbagai bencana di republik tercinta ini. Kesadaran dan kesanggupan tersebut tidak bisa dipisahkan dari iman. Sebab, dengan iman, manusia tergerak untuk mendekati nilai-nilai yang terbaik, untuk merangkul dan memesrahi semua ciptaan Allah.
Diriwayatkan oleh Aisyah ra, Rasulullah SAW menyatakan, "Orang-orang yang pemurah dekat dengan Allah SWT, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Orang yang pemurah, sekalipun jahil, lebih disukai Allah daripada orang yang gemar beribadat tapi kikir".
Pesan suci sang Rasul tersebut merupakan daya pendorong bagi kita untuk mau berbagi kesejahteraan dengan yang lain. Sebab, memberi kepada orang lain atau meringankan beban mereka merupakan kunci utama menjemput pertolongan Allah.
Doa adalah saripati peribadatan. Untuk mendapatkan kemakbulan dalam berdoa, hendaklah seorang muslim memperhatikan etika dalam berdoa. Banyak orang yang mengira rahasia terkabulnya doa terletak hanya pada lafal yang diucapkan, bukan pada kehadiran hati yang merupakan syarat yang harus dipenuhi.
Etika berdoa adalah,
Pertama, memilih waktu.
Dalam tulisan yang singkat ini, saya akan memaparkan beberapa waktu yang ijabah di mana pada waktu-waktu itu Allah mengabulkan doa kita. Yakni, sepertiga malam yang terakhir, waktu azan (dikumandangkan), di antara azan dan iqomah, selesai salat fardu, imam naik mimbar hingga selesai salat pada hari itu, pada jam-jam terakhir setelah salat asar, hari Arafah, hari Jumat, bulan Ramadan, dan sebagainya. Ramadan memiliki keistimewaan untuk memperbanyak doa karena termasuk bulan mulia.
Kedua, mengangkat tangan dan menghadap kiblat.
Berdoa dengan mengangkat tangan dan menghadap kiblat adalah bagian dari sunah Rasul. Sahabat Abdullah bin Zaid menegaskan, "Pada suatu ketika, Rasulullah keluar ke musala untuk memohon turunnya hujan. Beliau berdoa sambil menghadap kiblat, hingga kemudian doanya dikabulkan Allah." Tegasnya, doa yang dipanjatkan disertai mengangkat tangan mudah dikabulkan Allah.
Ketiga, dimulai dengan memuji Allah.
Dalam berdoa, kita hendaknya memulai dengan memuji keagungan Allah dan bersalawat kepada Nabi, baik di tengah, awal, maupun akhir doa.
Itu sejalan dengan yang dikatakan sahabat Abdullah bin Mas’ud, "Aku pernah melakukan salat, sedangkan Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab berada di sampingku. Ketika duduk berdoa, aku memulainya dengan bacaan tahmid (alhamdulillah) dan bacaan salawat Nabi, baru kemudian berdoa untuk kepentingan pribadiku."
Lantas, Rasulullah SAW bersabda, "Mintalah apa saja pasti akan dikabulkan Allah" (HR Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud).
Keempat, khusyuk dan tadarru’ dalam berdoa.
Allah memerintah kita dalam berdoa agar merendahkan diri dan khusyuk. Sebab, Allah sangat tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Kelima, dengan suara sederhana.
Perlu kita ketahui, bersuara sederhana, dalam arti tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan, termasuk etika berdoa. Di sini, pengertian berdoa dengan suara lembut adalah dengan merahasiakannya di dalam hati agar tidak muncul sifat pamer yang menjadi sifat kebanyakan di antara kita.
Keenam, memilih doa yang Qurani dan haditsi.
Seorang muslim, ketika berdoa, hendaklah memilih doa-doa yang diajarkan Alquran maupun al-hadis. Usahakan menjauhi dan menghindari teks-teks yang berbentuk puisi. Sebab, berdoa adalah mengagungkan dan memuji Allah, sehingga tidak perlu dengan bahasa puitis yang lazimnya dilakukan kaum Jahiliah.
Ketujuh, tidak menyimpang dari syariat.
Kita harus berusaha tetap berdoa dalam urusan kebaikan. Jangan sampai kita berdoa untuk kesengsaraan diri sendiri maupun orang lain karena hal tersebut dilarang Islam. Keberhasilan dan keajaiban lewat sebuah doa telah dibuktikan secara nyata oleh salafus shalih dari kalangan para nabi, sahabat, tabiin, dan generasi berikutnya. Kini, tinggal giliran kita untuk membuktikannya.















Reply With Quote
