KELUHAN nyeri pinggang, leher, dan bahu kerap mengganggu aktivitas sehari-hari. Terapi rehabilitasi aktif bisa ditempuh untuk membebaskan dari penderitaan. Apa yang dilakukan ketika terluka atau mengalami nyeri?

Bagian yang luka atau nyeri itu akan didiamkan, dijaga, dan ”disayang-sayang” sampai sembuh. Itulah yang dilakukan banyak orang. Namun, yakinkah kalau tindakan tersebut sudah tepat? ”Rasa nyeri muncul ketika otot berkontraksi. Orang yang mengalami nyeri terkadang tidak berani menggerakkan bagian yang nyeri supaya tidak terasa sakit. Akibatnya, fungsi otot di area sekitarnya makin lama makin menurun atau terjadi dekondisi,” kata dr Arie S Sutopo SpKO, spesialis kedokteran olahraga dari RS Gading Pluit Jakarta.

Nyeri atau pegal pada pinggang, leher dan bahu umumnya paling sering dikeluhkan. Khusus nyeri pinggang, angka prevalensi sepanjang hidup (lifetime prevalence) pada orang dewasa di seluruh dunia mencapai 80 persen. Hal ini merupakan penyebab utama dan terbesar dari hilangnya waktu kerja di negara Amerika dan beberapa negara di Eropa karena umum menimpa masyarakat usia produktif. Pada tubuh manusia, terdapat struktur anatomi punggung dan leher yang terdiri atas jaringan lunak, otot, ligamen, tendon, tulang, sendi, discus dan saraf. Bilamana ada gangguan pada salah satu komponen tersebut, maka rasa sakit bisa timbul.

Bagian sakit tersebut biasanya tidak berfungsi karena dijadikan pasif dan statis (immobile). Hasilnya, rasa nyeri akan bertambah parah. Karena itu, bagian yang nyeri itu harus diaktifkan kembali supaya daya dukungnya makin meningkat. ”Dalam hal ini, otot perlu dilatih serta ditambah daya tahan dan kekuatannya sehingga bagian tersebut lebih stabil. Namun, tentu ada aturan supaya injury tidak bertambah parah,” saran dr Arie yang juga menjabat ketua program studi ilmu keolahragaan FIK UNJ. Berbagai terapi untuk penanganan nyeri pinggang, leher, dan bahu saat ini sudah banyak tersedia. Jenisnya pun sangat beragam, baik yang bersifat konvensional maupun alternatif.

Penanganan terkini yang berasal dari Finlandia misalnya, mengadopsi sistem pemulihan nyeri melalui konsep rehabilitasi aktif atau dikenal dengan documentation based care (DBC). Program berbasis teknologi tinggi ini menggunakan alat-alat pelatihan medis khusus yang dirancang untuk melatih otot-otot utama yang berperan menstabilkan dan mengokohkan tulang punggung yang cedera. Latihan aktif yang dilakukan secara bertahap tersebut meliputi: pembentukan serabut otot, menguatkan, mengembalikan fungsi, dan mengontrol keseimbangan otot.

Selain itu, meningkatkan daya tahan tubuh. Keunikan peranti terukur ini adalah sistem penguncian (lock system). Ketika seorang pasien melakukan suatu gerakan, bagian tubuh atau otot tertentu yang tidak boleh bergerak akan dikunci. Dengan demikian, yang betul-betul bergerak hanya bagian tubuh yang memang ingin dilatih.

”Jenis gerakan yang diterapkan pada setiap pasien juga tidak bisa disamaratakan, tergantung kasus nyeri atau cedera yang dialami. Sekalipun keluhan sama, jenis penanganan bisa berbeda. Jadi, sifatnya evidence based,” kata Dr dr A Bambang Darwono SpB SpOT FICS, ahli bedah dan ortopedi RS Gading Pluit.

Agar ditemukan formula paling tepat untuk mengatasi nyeri, harus diketahui dulu sumber penyebab nyeri melalui serangkaian konsultasi dan assessment lengkap dan detail (biasanya dengan dokter ortopedi). Dengan begitu, arah terapi bisa segera ditentukan. ”Sebelum menjalani latihan, ada fase saat pasien diminta beristirahat hingga mencapai tingkat kesembuhan tertentu,” ungkapnya. Konsep rehabilitasi aktif tanpa suntikan dan obat ini dianggap aman dan efektif mempercepat pemulihan pascatindakan operasi.