View Full Version : Tahukah Kamu?? (Sport Edition)..
Lord_man
05-31-2007, 10:48 PM
Buat Temen temen yang punya info mengenai Hal hal pengetahuan atau kejadian kejadian unik mengenai Olahraga, Share disini yuuk...supaya kita kita bisa jadi tahu dan tambah pengetahuan mengenai Olahraga dengan segala seluk beluknya...
:monyetcool: :ole: :monyetcool:
Lord_man
05-31-2007, 11:07 PM
Didier drogba , Ruud Van Nistelrooy adalah beberapa pemain sepakbola yang tersubur di setiap liganya saat ini. tapi tahukah kamu kalo ada pemain bola yang lebih subur dari mereka, dengan mampu mencetak 16 gol ke gawang lawan dalam 1 pertandingan?? what??! 16 gol sekali main..?? weleh weleh...dia adalah Panaglotis pontikos yang bermain di klub Olympos Xylopagou di liga siprus divisi 3. Pada tanggal 7 mei lalu dia dan klubnya mampu menang besar dengan skor sangat telak 24: 3 melawan SEK Ayios Athanasios, Panagglotis sendiri mampu mencetak 16 gol...dia pun akhirnya masuk kedalam guenness book of record, sebagai pemain bola paling tersubur di dunia.
namu dia tidak sendirian, ada Stephen stanis yang juga mencetak 16 gol di tahun 1942 di piala prancis, dan archie thompson yang pada tanggal 15 mei lalu mampu mencetak 13 gol, dan hebatnya dia saat itu membela timnas australia saat uji coba melawan tim American Samoa, dan membawa timnya menang telak 31:0...
Rekor Baru di Wembley Baru
http://www.detiksport.com/content_images/content/2007/03/26/427/WembleyBaru.jpg
London - Tim U-21 Inggris dan Italia menjadi kesebelasan pertama yang mencicipi stadion Wembley yang baru saja direnovasi. Hasilnya, deretan rekor tercipta di sana.
Dalam pertandingan persahabatan yang digelar Sabtu (24/3/2007), kedua tim memang hanya bermain imbang 3-3. Namun beberapa rekor berhasil tercipta, dan sebagian besar dihasilkan striker Italia, Gianpaolo Pazzini.
Pazzini tercatat menjadi orang pertama yang mencetak gol di stadion yang kini berkapasitas 90 ribu penonton itu. Tidak hanya itu, gol pertama yang dicetaknya saat pertandingan baru berjalan 25 detik, merupakan gol tercepat di stadion Wembley, setelah dan sebelum renovasi.
Tapi itu belum semua, masih ada lagi rekor yang dicatatkan Pazzini. Striker Fiorentina itu juga menjadi pesepakbola pertama yang mencetak tiga gol alias hat-trick di Wembley baru.
Sementara itu David Bentley menjadi orang Inggris pertama yang mencetak gol di stadion tersebut lewat golnya di menit 31.
Diklaim Asosiasi Sepakbola Inggris, FA, ada satu lagi catatan rekor yang tercipta. Jumlah penonton sebanyak 60 ribu orang yang menghadiri pertandingan tersebut --dari kapasitas 90 ribu-- , diyakini FA sebagai yang terbesar dalam pertandingan U-21.
"Ini adalah kerumunan penonton pertandingan U-21 terbanyak dalam sejarah sepakbola," klaim FA dilansir AFP
Tendangan-Tendangan Geledek di Lapangan Hijau
http://www.detiksport.com/content_images/content/2007/03/20/427/KickBall-WorldofStock.jpg
Selain jago free kick, David Beckham pun punya tendangan sangat kuat. Selain dia, siapa lagi penghasil tendangan geledek di lapangan hijau?
Dalam daftar tendangan terkencang versi Guardian, Beckham berada di posisi kedua. Saat masih membela Manchester United ia pernah melepaskan sebuah tendangan bebas yang berbuah gol dengan kecepatan tendangan 157 km/jam. Ketika itu MU bermain imbang dengan Chelsea 1-1.
Pesepakbola yang masih tercatat sebagai gelandang Real Madrid itu juga pernah mencatat tendangan kencang lainnya. Melawan Derby County pada 4 September 1996, sebuah tendangannya tercatat berkecepatan 129 km/jam.
Walaupun memiliki dua tendangan yang masuk daftar terkencang versi Guardian, Beckham bukan pemilik tendangan paling deras. Mau tahu yang mengalahkan mantan skipper timnas Inggris itu?
David Hirst. Saat membela Sheffield Wednesday pada 16 September 1996, ia pernah melesakkan tendangan berkecepatan 183,54 km/jam! Sialnya ketika itu tendangannya hanya membentur mistar, dan Sheffield kalah 1-4 dari Arsenal.
Berikut daftar tendangan terkencang versi Guardian:
1) David Hirst - 183,54 km/jam - Sheffield Wednesday vs Arsenal pada 16 September 1996
2) David Beckham - 157,619 km/jam - Man Utd vs Chelsea pada 22 Februari 1997
3) David Trezeguet - 154,56 km/jam - Monaco vs MU pada 19 Maret 1998
4) Richie Humphreys - 154,399 km/jam - Sheffield Wednesday v Aston Villa pada 17 Agustus 1996
5) Matt Le Tissier - 139,748 km/jam - Southampton vs Newcastle pada 18 Januari 1997
6) Alan Shearer - 138,138 km/jam - Newcastle v Leicester pada 2 Februari 1997
7) Roberto Carlos - 137,172 km/jam - Brasil v Prancis pada 3 Juni 1997
8) Tugay - 135,562 km/jam - Blackburn vs Southampton pada 3 November 2001
9) Obafemi Martins - 135,24 km/jam - Newcastle vs Tottenham pada 4 Januari 2007
10) David Beckham - 129,605 km/jam - MU vs Derby County pada 4 September 4 1996.
Lord_man
05-31-2007, 11:46 PM
Olimpiade adalah ajang olahraga yang diadakan setiap empat tahun sekali dan diikuti oleh seluruh negara di dunia yang terdaftar di Komite Olimpiade Internasional (IOC).
Awalnya hanya berlangsung di Yunani kuno, Olimpiade kemudian dihidupkan kembali oleh seorang bangsawan Perancis, Pierre Frèdy, Baron de Coubertin pada akhir abad ke-19. Olimpiade yang lebih dikenal di Indonesia, Olimpiade musim panas, telah diadakan setiap empat tahun sekali sejak 1896, kecuali tahun-tahun pada masa Perang Dunia II.
Edisi khusus untuk olahraga musim dingin, Olimpiade musim dingin, dimulai pada 1924. Awalnya ini diadakan pada tahun yang sama dengan Olimpiade musim panas, namun sejak 1994 Olimpiade musim dingin diadakan setiap empat tahun sekali, dengan selang dua tahun setelah Olimpiade musim panas.
Pada 2004, Olimpiade kembali ke "rumah" lamanya di Yunani untuk Olimpiade XXVIII.
Partisipasi Indonesia
* Pertama kali berpartisipasi pada Olimpiade 1952 di Helsinki, Finlandia, dan selanjutnya tak pernah absen pada tahun 1956, 1960 1964, 1968, 1972, 1976, 1980, 1984, 1988, 1992, 1996, 2000, 2004.
* Medali pertama bagi kontingen Indonesia adalah pada Olimpiade Seoul 1988 di Seoul, Korea Selatan. Trio pemanah Indonesia berhasil meraih medali perak cabang panahan beregu putri yang anggotanya adalah Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani dan Lilies Handayani
* Pada Olimpiade Barcelona 1992 di Barcelona, Spanyol, Medali emas pertama bagi kontingen Indonesia sepanjang sejarah Olimpiade dipersembahkan oleh Susi Susanti (bulutangkis, tunggal putri) disusul oleh Alan Budikusuma (bulutangkis, tunggal putra). Perak: Ardi B. Wiranata (bulutangkis, tunggal putra), Eddy Hartono/Rudy Gunawan (bulutangkis, ganda putra); Perunggu: Hermawan Susanto (bulutangkis, tunggal putra). Pada Olimpiade ini, Indonesia meraih 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu, yang semuanya dipersembahkan oleh kontingen bulutangkis.
* Pada Olimpiade Atlanta 1996 di Atlanta, AS, Indonesia meraih 1 emas, 1 perak dan 2 perunggu. Semua medali untuk Kontingen Indonesia dipersembahkan oleh tim bulutangkis: Emas: Rexy Mainaky/Ricky Subagja (nomor ganda Putra); Perak: Mia Audina (tunggal puteri); Perunggu: Susi Susanti (tunggal putri), Denny Kantono/Antonius Iriantho (ganda putra).
* Pada Olimpiade Sydney 2000 di Sydney, Australia, Indonesia meraih 1 emas, 3 perak dan 2 perunggu. Emas: Tony Gunawan/Chandra Wijaya (Bulutangkis, ganda putra); Perak: Hendrawan (Bulutangkis, tunggal putra), Tri Kusharyanto/Minarti Timur (Bulutangkis, ganda campuran), Raema Lisa Rumbewas (Angkat Berat putri 48 kg.); Perunggu: Sri Indriyani (Angkat berat, putri 48 kg.), Winarni Weightlifting, (Angkat berat, putri 53 kg.)
* Pada Olimpiade Athena 2004 di Athena, Yunani, Indonesia meraih 1 emas dan 2 perunggu. Emas: Taufik Hidayat (Bulutangkis, tunggal putra), Perunggu: Soni Dwi Kuncoro (bulutangkis, tunggal putra) dan Flandy Limpele/Eng Hian (bulutangkis, ganda putra).
Lord_man
05-31-2007, 11:53 PM
Walaupun prestasi timnas sepak bola kita saat ini masih jalan di tempat.. tapi tahukah kamu??.. kalo timnas kita dulu merupakan bagian dari sejarah Piala Dunia, dengan nama Hindia-Belanda di tahun 1938, Indonesia tercatat sebagai negara Asia pertama yang masuk ke putaran final Piala Dunia..
hmm kapan yaa hal ini bisa terulang lagi...??:bubuk: :bubuk:
Lord_man
05-31-2007, 11:57 PM
Kejuaraan dunia untuk balap motor pertama kali di selenggarakan oleh Federation Internationale de Motocyclisme (FIM), pada tahun 1949. Pada saat itu secara tradisional telah di selenggarakan beberapa balapan di tiap even untuk berbagai kelas motor, berdasarkan kapasitas mesin, dan kelas untuk sidecars (motor bersespan). Kelas-kelas yang ada saat itu adalah 50cc, 125cc, 250cc, 350cc, dan 500cc untuk motor single seater, serta 350cc dan 500cc untuk motor sidecars. Memasuki tahun 1950-an dan sepanjang 1960-an, motor bermesin 4 tak mendominasi seluruh kelas. Pada akhir 1960-an, motor bermesin 2 tak mulai menguasai kelas-kelas kecil. Di tahun 1970-an motor bermesin 2 tak benar-benar menyingkirkan mesin-mesin 4 tak. Pada tahun 1979, Honda berusaha mengembalikan mesin 4 tak di kelas puncak dengan menurunkan motor NR500, namun proyek ini gagal, dan di tahun 1983 Honda bahkan meraih kemenangan dengan motor 500cc 2 tak miliknya. Pada tahun 1983, kelas 350cc akhirnya dihapuskan. Kelas 50cc kemudian digantikan oleh kelas 80cc di tahun 1984, tetapi kelas yang sering di dominasi oleh pembalap dari Spanyol dan Italia ini akhirnya ditiadakan pada tahun 1990. Kelas sidecars juga ditiadakan dari kejuaraan dunia di tahun 1990-an, menyisakan kelas 125cc, 250cc, dan kelas 500cc.
GP 500, kelas yang menjadi puncak balap motor Grand Prix, telah berubah secara dramatis pada tahun 2002. Dari pertengahan tahun 1970-an sampai 2001 kelas puncak dari balap GP ini dibatasi 4 silinder dan kapasitas mesin 500cc, baik jenis mesin 4 tak ataupun 2 tak. Akibatnya, yang mampu bertahan adalah mesin 2 tak, yang notabene menghasilkan tenaga dan akselerasi yang lebih besar. Pada tahun 2002 untuk pertama kalinya pabrikan di ijinkan untuk memperbesar kapasitas total mesin khusus untuk mesin 4 tak menjadi maksimum 990cc, dan memberikan kebebasan untuk memilih jumlah silinder yang digunakan antara tiga sampai enam dengan batas berat tertentu. Dengan di bolehkannya motor 4 tak 990cc tersebut, kelas GP 500 diubah namanya menjadi MotoGP. Setelah tahun 2003 tidak ada lagi mesin 2 tak yang turun di kelas MotoGP. Untuk kelas 125cc dan 250cc secara khusus masih menggunakan mesin 2 tak.
Balap untuk kelas MotoGP saat ini diselenggarakan sebanyak 17 seri di 15 negara yang berbeda (Spanyol menggelar 3 seri balapan). Balapan biasa di gelar setiap akhir pekan dengan beberapa tahap. Hari Jum’at di gelar latihan bebas dan latihan resmi pertama, kemudian hari Sabtu dilaksanakan latihan resmi kedua dan QTT, dimana para pembalap berusaha membuat catatan waktu terbaik untuk menentukan posisi start mereka. Balapan sendiri digelar pada hari Minggu, meskipun ada seri yang digelar hari Sabtu yaitu di Belanda dan Qatar. Grid (baris posisi start) terdiri dari 3 pembalap perbaris dan biasanya setiap seri balap diikuti oleh sekitar 20 pembalap. Balapan dilaksanakan selama sekitar 45 menit dan pembalap berlomba sepanjang jumlah putaran yang ditentukan, tanpa masuk pit untuk mengganti ban atau mengisi bahan bakar.
Lord_man
06-01-2007, 12:10 AM
Musim - Pembalap - Tim
1950 - Nino Farina - Alfa Romeo
1951 -Juan Manuel Fangio -Alfa Romeo
1952 - Alberto Ascari - Ferrari
1953 -Alberto Ascari - Ferrari
1954 - uan Manuel Fangio - Maserati, Mercedes
1955 - Juan Manuel Fangio - Mercedes-Benz
1956 - Juan Manuel Fangio - Ferrari
1957 - Juan Manuel Fangio - Maserati
1958 - Mike Hawthorn - Ferrari
1959 - Jack Brabham - Cooper*
1960 - Jack Brabham - Cooper*
1961 - Phil Hill - Ferrari*
1962 - Graham Hill - BRM*
1963 - Jim Clark - Lotus*
1964 - John Surtees[6] - Ferrari*
1965 - Jim Clark - Lotus*
1966 - Jack Brabham - Brabham*
1967 - Denny Hulme - Brabham*
1968 - Graham Hill - Lotus*
1969 - Jackie Stewart - Matra*
1970 - Jochen Rindt - Lotus*
1971 - Jackie Stewart - Tyrrell*
1972 - Emerson Fittipaldi - Lotus*
1973 - Jackie Stewart - Tyrell
1974 - Emerson Fittipaldi - McLaren*
1975 - Niki Lauda - Ferrari*
1976 - James Hunt - McLaren
1977 - Niki Lauda - Ferrari*
1978 - Mario Andretti - Lotus*
1979 - Jody Scheckter - Ferrari*
1980 - Alan Jones - Williams*
1981 - Nelson Piquet - Brabham
1982 - Keke Rosberg - Williams
1983 - Nelson Piquet - Brabham
1984 - Niki Lauda - McLaren*
1985 - Alain Prost - McLaren*
1986 - Alain Prost - McLaren
1987 - Nelson Piquet - Williams*
1988 - Ayrton Senna - McLaren*
1989 - Alain Prost - McLaren*
1990 - Ayrton Senna - McLaren*
1991 - Ayrton Senna - McLaren*
1992 - Nigel Mansell - Williams*
1993 - Alain Prost - Williams*
1994 - Michael Schumacher- Benetton
1995 - Michael Schumacher -Benetton*
1996 - Damon Hill[10] - Williams*
1997 - Jacques Villeneuve - Williams*
1998 - Mika Häkkinen - McLaren*
1999 - Mika Häkkinen - McLaren
2000 - Michael Schumacher - Ferrari*
2001 - Michael Schumacher - Ferrari*
2002 - Michael Schumacher - Ferrari*
2003 - Michael Schumacher - Ferrari*
2004 - Michael Schumacher - Ferrari*
2005 - Fernando Alonso - Renault*
2006 - Fernando Alonso - Renault*
bang_joni
06-01-2007, 12:34 AM
Tim Perancis. pada WC2002 datang sebagai juara bertahan dengan membawa 3 topscorer.. masing Thiery Henry di liga Inggris, David Trezeguet di Liga Italia dan Djibril Cisse di liga Prancis... Tapi harus pulang lebih awal tanpa mencetak sebuah gol........Ironis:bingung:
invoker
06-01-2007, 01:26 AM
Sepak bola atau Soccer (lebih dikenal sebagai "football" diluar Amerika) sudah ada semenjak lama. Maksudnya bener-bener lama. Menurut the National Soccer Hall of Fame and Museum, sepakbola muali dikenal di masa Mesir kuno, Dinasti Ts'in di China, dan orang-orang Indian di Amerika tahun 1600-an.
http://www.balgownierangers.com.au/images/bally1921(1).jpg
Sampe sekarang banyak yang percaya kalo orang Inggris lah yang menemukan pemainan ini,tapi menurut apa yang kita temukan, orang Cina lah yang pantas disebut penemunya. Televisi Canada minta kepada presiden FIFA Sepp Blatter untuk secara resmi mengakui bahwa orang Cina sudah bermain bola semenjak "seribu tahun yang lalu." Malah mungkin lebih kuno lagi. Menurut artikel cerdas ini, sejarawan sudah nemuin bukti bahwa permainan ini berasal semenjak 2,000 tahun yang lalu.
http://www.hitjokes.com/images/why_men_love_soccer.jpg
Perkebangan sepakbola merambah kaum hawa
FIFA.com akhirnya mau memikirkan hal ini lebih dalam. Permainan bola tingkat awal yang dinamakan "cuju" punya banyak kemiripan dengan sepakbola modern dengan tim, aturan, kejuaraan, dan stadion. Permainan ini "menjadi idola diantara penguasa maupun rakyat jelata," dan seiring berjalanya waktu, berevolusi menjadi fenomena dunia.
Walopun begitu masih ada sati pertanyaan mengganjal -- siapa sih yang mulai dengan kata-kata "soccer"? Akhirnyae Mavens' Word of the Day yang selalu bisa kita andelin bilang bahwa orang-orang Inggris lah biang keroknya. "Pembikinan nama resmi dari permainan ini menjadi soccer adalah Association football." Mavens menerangkan bahwa kata "soccer" itu adalah sebuah bahasa slang dari "(As)soc(iation football)" dan ditambahi akhiran "er"
Lord_man
06-01-2007, 01:49 AM
Pernahkah Anda perhatikan mengapa pada pertandingan tennis atau badminton internasional angka nol selalu disebut dengan “love”? Penggunaan “love” untuk menunjuk angka nol, ternyata berasal dari waktu lampau saat olah raga tennis berkembang di negara Perancis. Bagi para penonton Perancis, angka 0 terlihat seperti telur, sehingga mereka menyebutnya dengan “l’oeuf” untuk menunjukkan nol.
Saat permainan tennis ini menyeberang lautan menuju Inggris, istilah “l’oeuf” ini juga ikut terbawa, tapi orang Inggris menyebutnya dengan ejaan “love”. Itulah asal usul olah raga seperti tennis dan badminton menggunakan sebutan “love” untuk menyebut nol.
invoker
06-01-2007, 05:07 PM
http://www.paddlermagazine.com/issues/2000_1/pics/poc/Frank_Havens.gifhttp://www.tewanimafootrace.org/images/louistrophiesweb.jpg
Bill Havens and Frank Havens
1930 Bill Havens, seorang pendayung hebat berskala internasional, pada saat di karantina untuk persiapan piala dunia mendayung mendapat teleks yang mengatakan bahwa 2-3 hari lagi isterinya akan melahirkan. Dengan berita itu Bill memilih pulang untuk kelahiran anaknya, padahal medali emas sudah di incarnya di ajang tersebut.
Pada tahun 1952 Bill Havens menerima telegram dari putranya, Frank yang baru saja memenangkan medali emas di final 10.000 meter kano Olimpiade Helsinki, Finlandia. Telegram tersebut berbunyi, "Ayah, terima kasih karena telah menunggui kalhiran saya. Saya akan pulang dengan membawa medali emas yang seharusnya Ayah menangkan beberapa tahun yang lalu....Anakmu tersayang, Frank."
Lord_man
06-02-2007, 01:54 AM
Salah satu perilaku bola pada setiap pertandingan sepakbola adalah bergerak sambil berputar. Inilah yang sering menimbulkan pengecohan atau keterperangahan, sehingga perhentiannya sebagai sesuatu yang tidak diperkirakan.
Tim yang rata-rata pemainnya mampu mengukur secara tepat, berapa besar gaya yang harus diberikan, agar bola berhenti di tempat yang diinginkannya, akan mudah menguasai lapangan.
Pada tahun 1852 seorang fisikawan, Gustav Magnus, pernah menelitinya secara komprehensif dengan ratusan kali ujicoba dan ratusan jenis posisi.
Menurut hukum Fisika, perilaku seperti itu akan menimbulkan aliran udara di sekitarnya. Menurut Fisikawan lainnya, Bernoulli, semakin cepat udara mengalir, semakin kecil tekanannya. Sehingga menimbulkan selisih tekanan dengan aliran angin yang tidak jauh dari sana. Perbedaan ukuran ini, yang dikenal dengan sebutan efek Magnus, gilirannya menimbulkan gaya yang menekan bola untuk membelok.
Efek Magnus pada tendangan bebas David Beckham dan Roberto Carlos sering mengecoh kiper. Pasalnya, bola yang dilepaskan kedua pemain itu kerap berbelok secara horisontal di udara dan menyimpang dari lintasan yang seharusnya.
Untuk menggabungkan efek Magnus dengan lengkungan vertikal dibutuhkan kecakapan intuitif di samping perhitungan cepat. Tetapi ini saja tidak cukup tanpa latihan kontinyu.
Keahlian memadukan efek puntir dan angkatan bola dengan tinggi yang pas tersebut dimiliki Beckham dan Carlos. Kabarnya kemampuan mereka dalam pelajaran Matematika di bangku sekolah di atas rata-rata.
Efek magnus dikatakan maksimum bila sumbu putar bola tegak lurus dengan arah aliran udara. Efek ini mengecil ketika arah sumbu putar ini semakin mendekati arah aliran udara. Malah menjadi nol ketika arah sumbu putar ini sejajar dengan arah aliran udara.
Nah, pada tendangan bebas, bola yang bergerak dengan kecepatan 110 km/jam dan berotasi dengan 10 putaran per detik, bisa menyimpang lebih dari 4 meter. Ini cukup membuat penjaga gawang kebingungan.
Lengkungan tajam yang tiba-tiba inilah yang membuat penjaga gawang, juga pemain dan penonton, terperanjat. Mungkin karena terjebak pola pikir kultural, mereka tidak menyangka demikian.
Fisikawan Peter Bearman mengatakan, efek magnus akan mengecil bila kecepatan gerak bola terlalu besar atau rotasinya lebih lambat. Untuk memperbesarnya, harus membuat bola berputar lebih cepat.
Pada salah satu pertandingan, David Beckham menendang bola dengan sisi sepatunya, bergerak sambil berotasi sangat cepat. Kemudian bola melambung. Akhirnya membelok akibat adanya efek magnus.
Seperti diketahui gesekan bola dengan udara akan memperlambat kecepatannya. Sedangkan ini bisa menyebabkan efek magnus semakin besar. Akibatnya bola melengkung lebih tajam, sehingga nyelonong masuk gawang lawan. Mungkin karena mekanisme fisiknya belum menjadi pengetahuan umum, sehingga banyak orang di stadion ketika itu yang terperanjat.
Menurut para fisikawan yang doyan sepakbola, masih banyak yang bisa direncanakan terhadap bola yang bergerak sambil berputar. Misalkan, bagaimana menyundul, mengoperkan, membalikkan, sampai menangkisnya. Sebagian pelatih mengerti soal ini, termasuk bagaimana posisi tim ideal saat menghadapi bola seperti itu.
Malah berdasarkan perhitungan di atas kertas bisa diciptakan gol bunuh diri yang dilakukan lawan hanya dengan memanfaatkan bola yang bergerak sambil berputar.
Apa yang dilakukan Beckham dan Carlos hanyalah satu dari sekian option mekanika.
Lord_man
06-03-2007, 03:12 PM
http://www.imagehosting.com/out.php/i722848_JamesKiperAdrianDenniscov.jpg
Pertandingan Portsmouth versus Aston Villa memang hanya berakhir imbang 0-0. Namun David James tetap jadi pemenang dengan rekor baru jumlah clean sheet.
James tampil kokoh di bawah mistar gawang Portsmouth saat memaksakan hasil 0-0 melawan Villa, Minggu (22/4/2007). Hasilnya, mantan kiper nomor satu Inggris itupun kini menjadi penjaga gawang di Premiership yang memegang rekor nomor satu dalam hal clean sheet alias tidak kebobolan satu gol dalam sebuah partai.
Hasil imbang tanpa gol itu membuat James telah mencatatkan jumlah 142 kali clean sheet, terbanyak dalam sejarah Premiership. Jumlah itu mematahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh mantan kiper Arsenal, David Seaman.
Tidak mudah bagi kiper 36 tahun itu untuk memecahkan rekor yang ada, apalagi Villa kerap mengancam gawangnya dalam pertandingan tersebut. Namun James yang sudah menunggu lima partai untuk bisa mematahkan rekor ini akhirnya sukses juga melakukannya, bahkan dicapai saat melawan mantan klubnya sendiri.
"Saya sangat bangga. Ini adalah partai berat dan sangat menyenangkan bisa tidak kebobolan melawan klub lama saya," tukas James dilansir AFP.
Selain torehan tersebut, James juga merupakan kiper dengan penampilan terbanyak di Premiership. Sampai dengan 8 April 2007, James sudah tampil di 470 partai, dikuntit Nigel Martyn dengan 372 penampilan.
Jika mampu terus tampil jadi pilihan pertama pada musim depan, kiper yang sempat dijuluki Calamity James --karena kerap melakukan blunder-- itu juga berpeluang menjadi orang ketiga yang menembus angka 500 kali penampilan di Premiership. Dua sebelumnya adalah Gary Speed dan Ryan Giggs.
Lord_man
06-09-2007, 12:00 PM
Digagas majalah France Football sejak 1970, penghargaan Pesepakbola Terbaik Afrika mulai diselenggarakan Konfederasi Sepakbola Afrika per 1994. Berikut daftar pemenangnya:
1970: Salif Keita (St Etienne dan Mali)
1971: Ibrahim Sunday (Asante Kotoko dan Ghana)
1972: Cherif Souleymane (Hafia dan Guinea)
1973: Tshimen Bwanga (TP Mazembe Englebert dan Zaire)
1974: Paul Moukila (CARA Brazzaville dan Kongo)
1975: Ahmed Faras (Mohammedia dan Maroko)
1976: Roger Milla (Canon Yaounde dan Kamerun)
1977: Tarak Dhiab (Esperance dan Tunisia)
1978: Karim Abdoul Razak (Asante Kotoko dan Ghana)
1979: Thomas Nkono (Canon Yaounde and Cameroon)
1980: Jean Manga Onguene (Canon Yaounde dan Kamerun)
1981: Lakhdar Belloumi (GCR Mascara dan Aljazair)
1982: Thomas Nkono (Espanyol dan Kamerun)
1983: Mahmoud Al Khatib (Al Ahli dan Mesir)
1984: Theophile Abega (Toulouse dan Kamerun)
1985: Mohamed Timoumi (Royal Armed Forces dan Maroko)
1986: Badou Ezaki (Real Mallorca dan Maroko)
1987: Rabah Madjer (Porto dan Aljazair)
1988: Kalusha Bwalya (Cercle Bruges dan Zambia)
1989: George Weah (Monaco danLiberia)
1990: Roger Milla (St Denis, Reunion dan Kamerun)
1991: Abedi Pele Ayew (Olympique Marseille dan Ghana)
1992: Abedi Pele Ayew (Olympique Marseille dan Ghana)
1993: Abedi Pele Ayew (Olympique Lyon dan Ghana)
1994: George Weah (Paris St Germain dan Liberia) dan Emmanuel Amunike (Sporting Lisbon dan Nigeria)
1995: George Weah (AC Milan dan Liberia)
1996: Nwankwo Kanu (Inter Milan dan Nigeria)
1997: Victor Ikpeba (Monaco dan Nigeria)
1998: Mustapha Hadji (Deportivo Coruna dan Maroko)
1999: Nwankwo Kanu (Arsenal dan Nigeria)
2000: Patrick Mboma (Parma dan Kamerun)
2001: El Hadji Diouf (Rennes dan Senegal)
2002: El Hadji Diouf (Liverpool dan Senegal)
2003: Samuel Eto'o (Real Mallorca dan Kamerun)
2004: Samuel Eto'o (Barcelona dan Kamerun)
2005: Samuel Eto'o (Barcelona dan Kamerun)
2006: Didier Drogba (Chelsea dan Pantai Gading)
Lord_man
06-11-2007, 05:41 PM
http://i207.photobucket.com/albums/bb67/Razorrius/others/big_135578.jpg
Mantan bintang sepakbola Brasil, Romario dikabarkan sudah mencetak 1000 gol oleh surat kabar Belanda De Volkstrant. Padahal menurut hitungan pribadi Romario sendiri, ia baru mencetak 999 gol.
Menurut surat kabar De Volkstrant, Romario lupa pernah mencetak gol di bulan Agustus 1990 saat ia memperkuat PSV Eindhoven dalam sebuah laga persahabatan melawan tim amatir Nieuw Buinen.
Klaim Romario sudah mencetak 1000 gol disampaikan kiper Derk Piebes yang ditundukkan Romario. Romario sendiri tengah menghitung jumlah gol yang pernah ia cetak sejak ia masih bersama tim yunior, tampil di pertandingan persahabatan dan ekshibisi. Tahun 2002 lalu, Romario pernah mengunjungi PSV eindhoven untuk mencari data gol yang pernah ia cetak selama berkarir di Belanda.
Simichi_K
06-18-2007, 10:58 PM
Sanggupkah di Tahap Akhir?
Untuk dedengkot pencinta sepakbola Inggris di Indonesia, tentu masih terlintas kilasan tayangan di televisi nasional kita, TVRI, saat John Barnes dan manajer Kenny Dalglish di bulan Mei 1990 bersama-sama mengangkat trofi perlambang juara divisi utama. Waktu itu top flight division Inggris masih bernama Division One, belum disebut Premier League.
Tidak terasa sudah 17 tahun berlalu dan keberhasilan Barnes cs. membawa Liverpool menjadi raja Inggris belum jua terulang. Ya, dalam era Premiership ini prestasi terbaik Pool adalah menjadi runner-up Arsenal di musim 2001/02.
Kala itu kuartet lini belakang The Reds sangat tangguh dengan dipilari John-Arne Riise, Sami Hyypia, Stephane Henchoz, dan Jamie Carragher. Steven Gerrard, Dietmar Hamann, serta Danny Murphy mapan sebagai nyawa di sektor gelandang.
Lini yang benar-benar berubah dibanding wajah Anfield Gang saat ini ada di depan. Dulu, skuad asuhan Gerard Houllier berkibar berkat ketajaman Emile Heskey dan Michael Owen, yang secara total menyumbang 28 gol. Jumlah tersebut hanya terpaut delapan dibanding 20 gol yang dicetak Barnes sebagai pemain terbaik 1990 versi asosiasi penulis sepakbola Inggris.
Pada akhir 2001/02, selisih nilai akhir Liverpool dengan Arsenal cukup tipis, tujuh poin. Bandingkanlah itu dengan perbedaan 21 angka pasukan Rafael Benitez dengan Manchester United pada musim yang baru saja berakhir di Mei kemarin.
Kelambanan Rafalution
Ini sungguh mengherankan mengingat poros Riise-Carragher-Gerrard di 2002 kini kian solid di tengah rotasi para muka baru dengan kualitas teknik berkelas kontinental, tidak lagi semata bernaluri sepakbola cepat ala Inggris.
So, apakah dalam konteks liga domestik pencapaian peringkat dan perolehan nilai Liverpool ini memang seakan berjalan mundur?
Tidak. Bila direlatifkan dengan mekanisme perubahan di kubu Chelsea, The Reds hanya melangkah lebih lambat.
Well, dalam lima tahun sejak prestasi terbaiknya di 2002, Liverpool memang merasakan tantangan berbeda berupa pergantian rival--selain Arsenal dan Manchester United--di posisi empat besar. Mulai dari Newcastle, Chelsea, hingga rival sekota, Everton, bergantian menyodok naik.
Chelsea, yang mengalami pergantian kepemilikan di awal 2003/04 dan mengganti pelatih Claudio Ranieri dengan Jose Mourinho pada musim berikutnya, sekarang telah dua kali menjadi kampiun English Premier League.
Pada era yang sama, sejak 2004/05, Benitez datang ke Anfield melakukan sejumlah pembaruan. Syarat untuk datangnya trofi Barclays Premier League pun kian lengkap bagi Si Merah kala duet miliarder dari AS dan Kanada, Tom Hicks dan George Gillett, membeli klub berlambang Liverbird itu sekitar empat bulan lampau.
So, amat wajarlah apabila para Liverpudlian pun kini menjerit-jerit meminta darah dari 19 klub pesaing The Reds di musim depan. Untuk mereka 2007/08 adalah saat bagi Liverpool menjadi juara, karena dua dari tiga prasyarat untuk meraih trofi sudah ada di Anfield.
Setelah kehadiran manajer bertangan dingin dan pemilik baru bermodal kuat, tinggal pembelian pemain jor-joran yang perlu digeber para penguasa Liverpool. Jujur saja, arah perubahan yang dilakukan Rafa dalam tiga musim terakhir sendiri memang sudah benar meski terhambat persoalan fulus.
Ketimbang membeli pemain berdarah Britania yang berharga tidak masuk akal dengan kualitas pas-pasan dan tanpa pengalaman internasional, pelatih berumur 47 tahun itu membeli sejumlah Spaniard berpengalaman dengan banderol relatif lebih murah.
Hingga sekarang, sulit dimungkiri bahwa Luis Garcia, Xabi Alonso, dan Pepe Reina, adalah sosok sentral yang berpengaruh amat kuat di Anfield. Uniknya, imbas gaya kontinental beraroma latino ini dianggap tidak “bunyi” dalam duel-duel berbau fisik di Premier League.
Kembali ke Gaya Lama?
Kecepatan dan body charge memang masih sangat menentukan hasil akhir dalam laga-laga tandang Reds ke sejumlah klub papan tengah dan bawah. Kembali lagi ke khitahnya sebagai klub dengan tradisi pass and move yang kuat di Inggris bukanlah jalan yang dipilih Rafa untuk mengejar mahkota Premiership.
Menurut Benitez, rafalution di Liverpool bukan salah arah, tapi nanggung. “Sepakbola modern menuntut karakter yang kuat dari sebuah tim untuk keluar sebagai pemenang. Biarlah lawan yang beradaptasi dengan gaya permainan kami, bukan sebaliknya,” tandas pelatih yang di masa kecilnya mengidolakan Real Madrid itu.
Dalam tiga tahun, Stevie G. cs. berhasil dua kali menyambangi final Liga Champion memang menunjukkan bahwa transisi Benitez berjalan mulus. Akan tetapi, formulasi sepakbola miliknya mengandung perubahan karakter yang butuh waktu untuk benar-benar disegani di Premier League.
Ini layaknya kosmopolitanisme anutan Arsenal yang mengawinkan gaya Prancis dan Brasil sebagai modal utama untuk menjadi kekuatan mapan dengan koleksi tiga gelar juara Premiership.
Gaya The Gunners yang mampu “berbeda” untuk jadi yang terdepan adalah dasar dari analogi perubahan yang diimani Rafa. Butuh dua tahun untuk Wenger mengangkat Arsenal menjadi juara Premier League pertama kalinya di 1997/98.
Berapa waktu yang dibutuhkan Benitez terhitung sejak datangnya Hicks-Gillett?
Tidak ada yang bisa menjawab dengan tepat, tapi tanda-tanda zaman menunjukkan prosesnya bakal panjang karena pembangunan stadion baru pengganti Anfield pun menjadi prioritas lain yang perlu dihitung.
Target Tegas Gerrard
Mungkin apa yang disemburkan Gerrard selepas Liverpool kalah dari Milan di final Liga Champion 2007 perlu didengar oleh para petinggi. “Menjuarai liga musim depan adalah prioritas utamaku, juga bagi manajer dan para pemain lain. Semoga orang-orang yang baru bergabung sepaham denganku,” kata The Anfield Skipper pada Vitalfootball.
Menurut Gerrard, optimisme tumbuh sangat subur di Anfield setelah proses pengalihan berjalan mulus. “Kami semua menatap masa depan dengan yakin. Para suporter selama ini amat sabar dan setia, tapi saya rasa ini saat yang tepat untuk membayar mereka dengan sebuah gelar juara liga,” tandasnya lagi.
Sikap Benitez dan Gerrard jelas menuntut sinergi dari duet Hicks-Gillett agar tahap akhir pembentukan karakter Liverpool cepat tuntas. Sayangnya, para pemilik baru tidak membaca dengan benar situasi ini lantaran time table mereka berjangka lebih panjang.
Lewat sejumlah pernyataan di media cetak Inggris, Gillett nampaknya cukup puas andai Liverpool sekadar tetap lolos secara teratur ke Liga Champion. Untuknya, yang penting neraca bisnis tetap terjaga stabil dengan bermodal loyalitas Liverpudlian dalam membeli tiket, tanpa menghitung apakah klub kesayangan mereka menjadi penantang serius sang juara bertahan atau tidak.
Hati-hati, sikap ini pertaruhannya sangat berat. Benitez dan Gerrard yang patah arang bisa tiba-tiba hengkang dan pembentukan karakter yang tengah berjalan bisa putus di tengah jalan
Simichi_K
06-18-2007, 11:02 PM
Peran Impian: Playboy Footballer
Oleh: Dian Savitri
Dibanding dua rekan mainnya – Kuno Becker dan Anna Friel -- di trilogi “Goal!”, Alessandro Nivola tahu banyak tentang sepakbola. Bahkan, ia biasa bermain dan itu tampak dari penampilannya di film tersebut.
Bahkan, Steve McManaman, eks pemain Real Madrid yang mendapat peran cameo di bagian kedua “Goal!” – di mana setting film adalah di Real Madrid – mengakui bahwa Nivola jauh lebih baik ketimbang Becker.
“Menurut saya, Alessandro pernah bermain sepakbola sebelum film ini dan dia sangat bagus,” kata McManaman, ketika diwawancara oleh FIFA.
Di film itu, Nivola berperan sebagai seorang playboy yang kebetulan adalah juga pemain klub Newcastle United – kemudian pindah ke Real Madrid – yang selalu bepergian ke mana-mana dengan mobil sport-nya dan telat datang latihan bersama rekan-rekan seklubnya.
Sebagai Gavin Harris, Nivola menjadi tokoh yang berpengaruh baik sekaligus berpengaruh buruk kepada karakter yang dimainkan Becker, Santiago Munez. Meski demikian, kehadiran Gavin Harris membuat film itu menjadi lebih meriah.
“Saya sangat mengharapkan peran seperti Gavin. Soalnya, dalam kehidupan sehari-hari, saya berbeda 180 derajat dengan Gavin,” kata Nivola soal peran playboy-nya itu.
Sebelum bermain di “Goal!”, Nivola tampil sebagai adik Nicolas Cage – memerani karakter Pollux Troy – dalam film “Face/Off”. Kemudian, ia juga tampil dalam bagian ketiga “Jurassic Park”.
Lahir di Boston (Massachusetts), 28 Juni 1972, dari namanya sudah jelas bahwa Nivola keturunan Italia. Ayah Nivola memastikan bahwa putranya itu tidak pernah ketinggalan berita soal football.
“Karena berasal dari keluarga Italia, saya dibesarkan dalam suasana sepakbola. Saya bermain sepakbola, nonton sepakbola, dan segalanya. Sejak kecil, saya sudah mengikuti berita tentang segala jenis liga. Ketika saya diberitahu bahwa saya akan mendapat peran untuk bermain sepakbola bersama Alan Shearer, saya langsung menerimanya tanpa membaca naskahnya lebih dulu,” kata Nivola.
Meski ahli bermain sepakbola – dalam kategori amatir tentunya – Nivola tetap saja merasa gugup ketika harus berhadapan dengan pesepakbola sungguhan dalam film itu. “Sangat mengerikan malah. Soalnya, saya tidak mau berbuat bodoh di hadapan mereka. Saya tahu, sebagai aktor, skill sepakbola tentu saja akan sedikit diremehkan. Karena itu, saya berusaha untuk membuat mereka kagum dan saya tidak mau melakukan hal yang salah dalam usaha itu,” lanjut Nivola.
Dalam “Goal!” bagian kedua, karakter Nivola ditransfer ke Real Madrid, seperti halnya karakter utama, Santiago Munez. Banyak pengalaman yang diperoleh Nivola selama syuting bersama orang-orang Real.
“Ceritanya, saya ikut tur ke Asia bersama Real selama dua pekan. Dalam waktu sesingkat itu, saya mendapat banyak hal dari mereka dibanding waktu yang lebih lama yang saya habiskan di Newcastle. Terutama karena kami sama-sama jauh dari rumah dan ketika itu musim sudah berakhir, jadi semua pemain sudah lepas dari beban. Mereka benar-benar terbuka pada saya,” kata Nivola.
Dan, dengan bermain sebagai pesepakbola, skill Nivola sebagai pesepakbola juga semakin terasah. “Rasanya sungguh berbeda dibandingkan dengan hanya duduk di tribun. Berada satu lapangan dengan mereka sangat mempengaruhi saya, terutama dalam cara mereka memposisikan diri ketika sedang bermain,” kata Nivola, dalam wawancaranya dengan Film Focus.
Nivola juga pernah bermain di Stadion Old Trafford, dalam sebuah pertandingan amal yang digelar oleh Unicef, akhir Mei tahun lalu.
Nivola mewakili tim “Rest Of The World”, melawan Inggris. Rekan mainnya antara lain celebrity chef Gordon Ramsay, sprinter Ben Johnson, penyanyi Brian McFadden, eks pembalap F1 Eddie Irvine, dan Robbie Williams.
Dibanding dua rekan mainnya – Kuno Becker dan Anna Friel -- di trilogi “Goal!”, Alessandro Nivola tahu banyak tentang sepakbola. Bahkan, ia biasa bermain dan itu tampak dari penampilannya di film tersebut.
Bahkan, Steve McManaman, eks pemain Real Madrid yang mendapat peran cameo di bagian kedua “Goal!” – di mana setting film adalah di Real Madrid – mengakui bahwa Nivola jauh lebih baik ketimbang Becker.
“Menurut saya, Alessandro pernah bermain sepakbola sebelum film ini dan dia sangat bagus,” kata McManaman, ketika diwawancara oleh FIFA.
Di film itu, Nivola berperan sebagai seorang playboy yang kebetulan adalah juga pemain klub Newcastle United – kemudian pindah ke Real Madrid – yang selalu bepergian ke mana-mana dengan mobil sport-nya dan telat datang latihan bersama rekan-rekan seklubnya.
Sebagai Gavin Harris, Nivola menjadi tokoh yang berpengaruh baik sekaligus berpengaruh buruk kepada karakter yang dimainkan Becker, Santiago Munez. Meski demikian, kehadiran Gavin Harris membuat film itu menjadi lebih meriah.
“Saya sangat mengharapkan peran seperti Gavin. Soalnya, dalam kehidupan sehari-hari, saya berbeda 180 derajat dengan Gavin,” kata Nivola soal peran playboy-nya itu.
Sebelum bermain di “Goal!”, Nivola tampil sebagai adik Nicolas Cage – memerani karakter Pollux Troy – dalam film “Face/Off”. Kemudian, ia juga tampil dalam bagian ketiga “Jurassic Park”.
Lahir di Boston (Massachusetts), 28 Juni 1972, dari namanya sudah jelas bahwa Nivola keturunan Italia. Ayah Nivola memastikan bahwa putranya itu tidak pernah ketinggalan berita soal football.
“Karena berasal dari keluarga Italia, saya dibesarkan dalam suasana sepakbola. Saya bermain sepakbola, nonton sepakbola, dan segalanya. Sejak kecil, saya sudah mengikuti berita tentang segala jenis liga. Ketika saya diberitahu bahwa saya akan mendapat peran untuk bermain sepakbola bersama Alan Shearer, saya langsung menerimanya tanpa membaca naskahnya lebih dulu,” kata Nivola.
Meski ahli bermain sepakbola – dalam kategori amatir tentunya – Nivola tetap saja merasa gugup ketika harus berhadapan dengan pesepakbola sungguhan dalam film itu. “Sangat mengerikan malah. Soalnya, saya tidak mau berbuat bodoh di hadapan mereka. Saya tahu, sebagai aktor, skill sepakbola tentu saja akan sedikit diremehkan. Karena itu, saya berusaha untuk membuat mereka kagum dan saya tidak mau melakukan hal yang salah dalam usaha itu,” lanjut Nivola.
Dalam “Goal!” bagian kedua, karakter Nivola ditransfer ke Real Madrid, seperti halnya karakter utama, Santiago Munez. Banyak pengalaman yang diperoleh Nivola selama syuting bersama orang-orang Real.
“Ceritanya, saya ikut tur ke Asia bersama Real selama dua pekan. Dalam waktu sesingkat itu, saya mendapat banyak hal dari mereka dibanding waktu yang lebih lama yang saya habiskan di Newcastle. Terutama karena kami sama-sama jauh dari rumah dan ketika itu musim sudah berakhir, jadi semua pemain sudah lepas dari beban. Mereka benar-benar terbuka pada saya,” kata Nivola.
Dan, dengan bermain sebagai pesepakbola, skill Nivola sebagai pesepakbola juga semakin terasah. “Rasanya sungguh berbeda dibandingkan dengan hanya duduk di tribun. Berada satu lapangan dengan mereka sangat mempengaruhi saya, terutama dalam cara mereka memposisikan diri ketika sedang bermain,” kata Nivola, dalam wawancaranya dengan Film Focus.
Nivola juga pernah bermain di Stadion Old Trafford, dalam sebuah pertandingan amal yang digelar oleh Unicef, akhir Mei tahun lalu.
Nivola mewakili tim “Rest Of The World”, melawan Inggris. Rekan mainnya antara lain celebrity chef Gordon Ramsay, sprinter Ben Johnson, penyanyi Brian McFadden, eks pembalap F1 Eddie Irvine, dan Robbie Williams.
Simichi_K
06-18-2007, 11:04 PM
Menanti Debut Mercurial Veloci
Jadi, Piala Asia tahun ini memang istimewa. Untuk pertama kalinya digelar di empat negara dan untuk pertama kalinya juga turnamen ini akan memiliki sebuah bola resmi. Tidak mau kalah dong dengan Piala Dunia dan Piala Eropa.
Bola resmi keluaran Nike itu sudah diperkenalkan pertama kali pada 15 Mei lalu di markas AFC di Kuala Lumpur. Piala Asia akan digelar pada 7 hingga 19 Juli.
Mercurial Veloci AC, demikian nama bola itu, dihiasi dengan sebuah logo turnamen yang menampilkan empat warna, sesuai dengan jumlah negara penyelenggara; merah untuk Vietnam, hijau untuk Indonesia, biru untuk Thailand, dan kuning untuk Malaysia. Selain itu, setiap bola juga akan ditulisi nama kota penyelenggara.
Menurut situs resmi AFC, Mercurial Veloci dibuat dengan tangan mulai dari tengah hingga ke jahitan tepinya untuk memberi akselerasi dan kendali yang lebih baik ketika digunakan.
Teknologi untuk bola itu dimulai dengan sebuah ruang udara yang terbentuk dari enam bagian yang terbuat dari lateks-karbon. Selain itu, juga terdapat sistem katup yang memungkinkan udara mengalir tanpa hambatan.
Kulit bola terbuat dari lapisan-lapisan poliester, busa nitrogen, dan poliuretan padat, yang membuat struktur bola menjadi padat. Jika bola ditendang, tendangan itu akan menghasilkan bekas di bola, namun akan segera kembali ke bentuk semula.
Oke, kita lihat saja bagaimana “penampilan” bola ini selama Piala Asia bergulir nanti.
http://i189.photobucket.com/albums/z237/Simichi_kudo/bola.jpg
Simichi_K
06-18-2007, 11:05 PM
Kisah Zidane Berasap
Anda perokok atau bukan, hampir pasti Anda setuju bahwa rokok tetap tabu dikonsumsi seorang atlet. Merokok pada profesi tertentu, apalagi bagi praktisi olahraga, bahkan tak bisa ditoleransi, 99 % diharamkan. Benarkah?
Kendati merokok dianggap elemen tertentu dari gaya hidup si pesepakbola, atau bagian dari budaya di mana dia tinggal, hal itu tetap melahirkan polemik bin kontroversi. Padahal—ayolah, jangan terlalu naif—banyak olahragawan ulung malahan yang melegenda adalah seorang perokok.
Selasa pagi, 4 Juli 2006, seorang paparazzi mengendap-endap di sekitar perbukitan Muenchhausen dekat Hotel Schloss di kota Aerzen bei Hameln (Niederscachsen), di mana tim nasional Prancis bermarkas saat berlangsungnya Piala Dunia 2006. Maksud hati mau memotret gambar spesial para bintang Les Bleus, yang didapat malah lebih supereksklusif.
Seperti yang dilaporkan Simon Hattenstone pada The Guardian, mata si fotografer dari agensi foto Scoopt di Glasgow jadi terpana tatkala, melalui lensa jarak jauhnya, melihat Zinedine Zidane yang memakai kostum nasional, duduk di balkon hotel sambil membakar sebatang rokok.
”Matanya kadang tertutup. Pipinya sampai peot saat mengisap. Dua jarinya dirapatkan pada ujung bibir. Dia seolah-olah berada di surga.” Alamak! Apakah Zidane tengah stres berat sampai harus mengisap satu pak Marlboro merah?
Keesokan harinya, Prancis bertemu Portugal di semifinal. Dari gol semata wayang Zidane via tendangan penalti di menit 33 itulah dia meloloskan Les Bleus ke final. Dari ratusan laporan seragam soal kemenangan Prancis di pelbagai media massa, judul The Guardian paling menyita perhatian publik. Zidane’s secret: Can you really be a sport star and smoke?
Sementara itu Daily Mirror, yang sama-sama membeli lisensi foto eksklusif Scoopt itu, memasang tajuk He shoots, he scores, he lights another fag.... Dia menendang, dia mencetak gol, dia menyalakan rokok lain...Sindiran pada Zidane juga dibuat The Sun sesuai ciri khasnya melabelkan judul: “Zinedine Gitane”. Satu-satunya media yang membela kelakuan Zidane adalah The Independent yang mengangkat judul Zinedine’s puff for freedom (Embusan Zidane untuk kebebasan).
Harian berhaluan moderat ini menegaskan bagaimana pun juga ada saatnya bagi seorang Zidane bertindak sebagai manusia biasa, individualis yang berani menjadi lelaki di dalam dan luar lapangan. Dua menit mengepulkan asap memang tak berarti dibanding 90 menit berjuang di lapangan.
Di televisi, sensasi Zidane juga dijadikan topik utama acara talk-show World Cuppa. Saat foto yang menggegerkan itu ditanyakan kepada pemirsa, apakah termasuk kategori “fame” atau “shame”, mayoritas memilih yang terakhir.
Tradisi Panjang
Zizou tetap Zizou dan barangkali 2006 cuma merupakan tahun yang spesial baginya. Beberapa hari sebelum terjadi insiden “head-butting” pada partai final, di mata sebagian penduduk dunia, Zidane sudah dianggap sebagai “tokoh tahun ini”. Yang jadi misteri apakah nikotin ikut berperan dan memengaruhinya sehingga dia menanduk Marco Materazzi? Itulah maksud judul Scoopt ” Nicotine Zidane”.
Sebenarnya, terutama buat orang Inggris, sepakbola atau olahraga itu tersendiri identik dengan rokok. Sebuah tradisi yang berakar kuat, sebagaimana yang diulas pada buku karangan D. Thompson berjudul Football and the Cigarette Card 1890-1940.
Khusus kasus Zizou, mereka cuma kaget bahwa Zinedine Zidane—duta Uni Eropa saat kampanye antirokok pada 2002—ternyata juga seorang perokok! Bukankah ini akan berdampak bagi jutaan anak muda yang memplotnya sebagai pahlawan sepakbola? Zizou tetap Zizou dan barangkali 2006 cuma merupakan tahun yang sial baginya.
Di mata kaum antismokers, itu tiada ampun, lebih dari soal pengkhianatannya. Mereka—yang juga maniak bola-- telah tertipu oleh salah satu sisi gelap sejarah sepakbola modern. ”Itu lagu lama," kata komunitas yang pro, ”Dan dia cuma mengikuti sebuah tradisi panjang nan mulia.”
Di Inggris, pergolakan antirokok dan prorokok terjadi hingga kini. Yang pro mengatakan tidak ada hubungannya antara prestasi dan rokok. Bintang tetap bintang dan legenda itu dilahirkan, bukan dibentuk.
Pada 1998, kelompok bernama ”The Pro-Smoking Group Forest” ini membuat all-smoking fantasy team. Komposisinya lengkap dan yahud punya. Mulai Dino Zoff; Gerson, Socrates, Franck Leboeuf, Jack Charlton; Jimmy Graves, David Ginola, Osvaldo Ardilles, Malcolm MacDonald; Bobby Charlton, Robert Prosinecki. Cadangan Paul Gascoigne, sedang pelatihnya Cesar Luis Menotti.
Entah mengapa grup Forest tak memasukkan pesohor sepakbola seperti Johan Cruijff bahkan Diego Maradona. Lalu ke mana pula George Best, Dario Hubner, Stan Bowles, dan Michel Platini?
Dari sekian deretan perokok ini, bisa jadi rekor Bowles yang paling ngawur. Gelandang Queen’s Park Rangers dan Inggris era 70-an ini tercatat tiap hari mengisap 80 batang rokok, malah plus sebotol vodka. Adapun Platini, yang kini Presiden UEFA, saat di Juventus dikenal sebagai perokok antusias bahkan di sela-sela latihan!
Keintiman Liga Inggris dengan asap tembakau punya sejarah panjang. Pada medio 70-an, performa Manchester City berantakan cuma gara-gara rokok. Mulai manajer, pemain, hingga penontonnya adalah smokers kelas kakap. Siapa yang tak kenal si gendut Malcolm Allison, manajer City yang selalu mengenakan fedora (topi khas Portugal) dan di mulutnya selalu terselip rokok?
Olahraga Lain
Suatu hari di saat jayanya membela Leeds United, Jack Charlton hanya mau diwawancarai sambil mengendarai mobil. Si wartawan ikut sejak dari Newcastle dan melihat bagaimana sang bintang terus mengepul selama perjalanan. Dampaknya hebat. Usai diantar sampai di depan rumahnya, si wartawan langsung muntah-muntah akibat keracunan asap rokok!
Era 70-an dekadensi moral melanda persepakbolaan Inggris. Glamor pada kehidupan dan seks para pesepakbola ditunjukkan melalui nikotin dan alkohol. Mereka sangat tidak peduli pada kanker hati, serangan jantung, atau mulut yang bau naga. Barangkali fenomena ini menjadi salah satu sebab kegagalan Inggris tampil Piala Eropa dan Piala Dunia.
Sejarah panjang ratusan tahun hubungan sepakbola dan rokok akan berakhir pada 1 Juli 2007 saat diberlakukan Health Act 2006. Jangan lagi pemain, para penonton pun akan didenda jika ketahuan merokok di stadion. Sejak lama, dunia olahraga profesional berhubungan intim dengan industri nikotin. Pendapatan iklan menjadi alasan klasik.
Dalam sebuah penelitian diketahui dari 1.559 pemain di Inggris yang berani mengakui dirinya perokok cuma 5 persen. Sorotan pada kondisi fisik biasanya cukup menakutkan si pemain. Tapi, Gascoigne paling cuek. Dia biasa bermain dengan napas terengah-engah. Gazza sebaliknya berkilah bahwa dia merokok untuk menstabilkan berat badannya.
Dalih itu pula yang dipakai para joki. Mereka rela jadi penggemar tembakau sebab tak mau kudanya keberatan membawa tubuhnya. Para pembalap sepeda zaman dulu percaya bahwa dengan merokok, paru-paru mereka lebih terbuka mengalirkan udara. Hal itu bahkan pernah terjadi di salah satu musim Tour de France saat mereka ” sharring” di atas sadel, saling mengoperkan puntung berasap.
Gara-gara rokok, kadang muncul ide sensasional, seperti yang dilakukan John Trevorrow, juara nasional Australia tiga kali. Tahu pembalapnya seorang perokok, manajernya sukses meraih dana besar hasil dari sponsor perusahaan rokok. Tapi, imbalannya sungguh konyol jika terjadi sekarang. Bayangkan, pada 1981 saat Trevorrrow tampil di Giro d’Italia, pentas prestisius kedua setelah Tour de France, dia harus berpose di setiap etape dengan nyala rokok di ujung bibirnya!
Bintang kriket top, Ian Botham, juga perokok ulung dan rokok Hamlet memanfaatkannya. Fred Flintoff merayakan kemenangan pada Turnamen Ashes 2005 dengan pesta tembakau selama 32 jam! Legenda Inggris, Denis Compton, mendongkrak penjualan rokok Condor. Fred Perry diandalkan New White Owl. Chesterfield bahkan menggelontor dana besar untuk mengontrak legenda bisbol AS, Joe DiMaggio.
Asap rokok mudah menjalar di olahraga mahal nan eksklusif seperti F-1 dan golf. Pegolf Irlandia Utara, Darren Clarke, punya bujet mahal, 25 ribu pound setahun, yang ia bakar untuk kenikmatannya merokok. Belum diketahui anggaran yang dikeluarkan Jesper Parnevik dan Tiger Woods.
Bintang olahraga lain yang dikenal sebagai perokok adalah petenis Inggris, Tim Henman. Konon dia mundur dari lapangan lantaran ingin memerdekakan diri sebagai perokok. Akhirnya, diakui atau tidak, apa yang terjadi pada Zidane tampaknya memang murni cuma sebuah potret humanisme seperti yang dipaparkan The Independent.
http://i189.photobucket.com/albums/z237/Simichi_kudo/Zidane.jpg
Lord_man
07-04-2007, 03:54 PM
Peribahasa "sedia payung sebelum hujan" berubah makna di turnamen Wimbledon menjadi "jangan pakai payung disaat hujan". Memangnya kenapa sih?
Hujan, mulai dari skala rintik-rintik sampai yang mirip guyuran deras, bukan hal asing di Wimbledon kali ini. Lebatnya hujan bukan hanya mengganggu penonton tapi malah sampai membuat pertandingan ditunda.
Bahkan di tunggal pria masih ada dua partai babak ketiga yang masih belum bisa dituntaskan akibat terkendala hujan. Akibatnya, waktu penyelenggaraan salah satu kejuaraan berskala Grand Slam itu pun mungkin akan bertambah, lagi-lagi karena hujan.
Akibat hujan, para penonton ikut terkena imbas yang cukup dilematis. Masalahnya mereka harus rela berbasah-basah di bawah guyuran hujan karena himbauan jangan memakai payung. Tidak main-main karena taruhannya nyawa!
Soalnya, guyuran hujan di sana turut disertai bunyi dan kilatan petir yang sambar menyambar. Salah-salah pakai payung, penonton malah bisa tersambar petir.
"Payung dan petir terkadang tidak bisa akur. Mungkin Anda harus memikirkan itu," demikian himbauan buat para penonton seperti dikutip AFP.
Tak pakai payung kehujanan, kalau pakai payung malah bisa mengundang maut. Serba salah!
Simichi_K
07-16-2007, 08:48 PM
Sudah lama Perang Dingin mati tergilas angin perubahan Perestroika dan Glasnost serta peta politik dunia. Namun, tanpa sengaja Premiership Inggris seperti menghidupkan kembali periode persaingan antara dua blok adidaya dunia yang terjadi sepanjang 1947-1991.
Cold War adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur).
Setelah 16 tahun berlalu, Perang Dingin itu muncul di Inggris namun dalam bentuk persaingan klub. Manchester United, yang dikuasai The Glazer Family, adalah reinkarnasinya Amerika Serikat (AS). Lawannya adalah Chelsea, reinkarnasi Rusia lewat simbol kamerad Roman Abramovich. Sebuah pertarungan konflik yang penuh intrik dan perbedaan ideologi pun tak terelakkan sepanjang musim 2006/07.
Tetapi, seperti aslinya, Perang Dingin adalah pertarungan global untuk hearts and minds. Jadi pada akhirnya sang pemenang dapat mengklaim bahwa dirinyalah pemilik moral yang tinggi.
United adalah juara dan ideologi Amerika akan kebebasan seperti yang dipraktekkan oleh Malcomb Glazers membuktikan kesuksesan atas kontrol ketat yang merugikan ala Abramovich. Sebuah kemenangan kebebasan atas pengawasan ketat.
Bermula dari ketakutan yang diekspresikan oleh pencinta United terhadap pengambilalihan klub oleh Glazers. Ternyata orang Amerika itu mampu memberi kenyamanan dengan membuktikan bahwa bendera Premiership bisa kembali ke Old Trafford.
Glazers telah menyokong Sir Alex Ferguson dengan kekuatan uang bila sang manajer membutuhkan. Namun, yang terpenting dari ideologi yang ditebar adalah pemberian kebebasan bagi seseorang untuk melakukan gaya manjerialnya sendiri.
Pengalaman
Dari sisi bisnis The Glazers berpengalaman dalam kepemilikan tim-tim olahraga dan tahu betul bahwa bisnis hanya akan berhasil apabila ada kecanggihan dalam pitch alias pembicaraan atau negosiasi.
Ketika Glazers membeli tim anggota NFL, Tampa Bay Buccaneers, tim ini dalam kondisi yang hampir mati. Glazers lalu menginvestasikan pemain dan pelatih baru, pertama-tama Tony Dungy dan kemudian Jon Gruden. Hasilnya adalah trofi Superbowl.
Ketika masuk United, Glazers membelinya dalam kondisi perusahaan dengan kesuksesan yang besar, dan dukungan manajer terbaik dalam bisnis. Glazers terus melenggang kendati telah diperingatkan sebelumnya bahwa Sir Alex tidak akan menerima campur tangan dan campur tangan yang menjengkelkan akan berisiko akan kehilangan.
Ideologi kebebasan yang tertanam ditubuhnya membuat Glazers tak perlu risau, karena menurutnya hal itu bukan masalah.
Sebaliknya, manajer Chelsea, Jose Mourinho, harus puas dengan sederetan campur tangan, meskipun cara mengontrol Abramovich tidak seketat yang pernah dilakukan pemimpin Rusia, Josef Stalin.
Abramovich memiliki klub, mengalirkan uang dan mempunyai hak untuk campur tangan jika dilihatnya perlu. Mantan manajer Chelsea, Claudio Ranieri, hanya diberi satu musim untuk membuktikan dirinya kepada Abramovich sebelum ia dipecat.
Namun, Mourinho belum mempunyai persiapan untuk beraksi. Abramovich selalu menginginkan Mourinho menjadi orang yang paling akhir berucap untuk permasalahan tim, sehingga ia harus mengakui dalam wawancara di koran The Observer.
Saya tidak dapat mengatakan bahwa sepenuhnya tidak terlibat dalam pembelian para pemain. Namun, peran saya mungkin secara signifikan lebih rendah dari peran manajer sesungguhnya.
Soal ini, Mourinho akhirnya tak sungkan untuk mengakui adanya ketegangan dalam hubungannya dengan Abramovich. Kondisi yang tercipta kemudian bagi pencinta Chelsea adalah keruntuhan pada musim ini terletak pada kebijakan transfer yang tampaknya lebih dikuasai oleh pemilik ketimbang orang yang bekerja untuknya, dalam hal ini Mourinho.
Kedatangan Andrei Shevchenko pada musim panas dinilai mengacaukan Chelsea. Pemain yang disebut-sebut didatangkan oleh Abramovich langsung membuat bos besar cenderung menolak untuk membeli lagi central defender kendati sudah berada dalam kondisi mendesak.
Chelsea harus datang ke Anfield, kandang klub Liverpool, pada semifinal Liga Champion dalam keadaan krisis. Tak ada pemain pengganti yang setimpal untuk pemain belakang sekelas Ricardo Carvalho.
Menikmati
Sementara itu, Sir Alex tampaknya menikmati hubungan yang nyaman dengan Glazer. Permintaan the old campaigner yang tidak berlebihan membuat apapun yang Sir Alex inginkan bisa didapatkan.
Sejak kedatangannya, The Glazers menyetujui untuk mendapatkan Patrice Evra (5,5 juta pound), Park Ji-Sung (4 juta pound), Nemanja Vidic (7 juta pound) dan Michael Carrick (18 juta pound).
Ketika Sir Alex membutuhkan sumber, juru bayar Glazers mewujudkannya. Orang Amerika itu telah membuktikan bahwa mereka tidak takut untuk mengeluarkan biaya yang besar ketika pencinta Chelsea terus mengharapkan trofi Premiership akan menjadi miliknya, tidak sedikit pun berpikir akan terbang ke arah utara.
Musim panas 2006 Chelsea memulai langkah dengan kehidupan yang terlihat bagus ketika The Blues mendatangkan Michael Ballack dari Bayern Muenchen dan Shevchenko dari AC Milan.
Komponen-komponen yang diakui bahwa Chelsea tidak hanya menjadi penguasa yang sukar ditaklukkan di kompetisi bumi Inggris, tetapi juga bakal mendominasi Eropa.
Hanya saja, seperti halnya gaya penguasa Rusia, retakan-retakan kecil mulai muncul di Stamford Bridge sepanjang musim. Tembok Biru peninggalan Chelsea sebagai juara dua kali berturut-turut akhirnya runtuh.
Memang, bisa jadi lepasnya genggaman besi Chelsea di Tanah Inggris membuat United menjadi popular di tengah massa. Namun bagi pencinta sepakbola Inggris yang netral kenyataan ini seperti memilih antara dua kerajaan setan.
Setelah menjadi kapitalis dengan jorjoran membeli pemain bintang dan menghasilkan gelar dua kali Premiership, Chelsea kembali pada gaya Stalin. Hasilnya, efisiensi ala Rusia yang kejam dalam meraih kembali gelar Premiership telah menciptakan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Sedangkan United telah mengibarkan kebebasan yang membawanya menjuarai pertempuran ideologi hearts and minds melawan Chelsea.
Jadi, untuk sementara Perang Dingin yang dihidupkan sepakbola Inggris telah berakhir. Musim depan kemungkinan kembali terjadi tetap terbuka. Namun, kapitalis-kapitalis baru dan juga mengibarkan bendera kebebasan akan bermunculan.
Semuanya membawa ambisi sekaligus potensi untuk mengacaukan keseimbangan Perang Dingin, seperti badai perestroika dan glasnost.
Simichi_K
07-16-2007, 08:50 PM
The Milan Lab
TIGA LELAKI populer di jagat raya sepakbola duduk berjajar di tribun VIP. Malam itu, di Spiridon Louis stadion mewah seharga Rp 3 triliun mereka bersiap menikmati hidangan mata yang tak pernah bosan disantap bertahun-tahun: final Liga Champion.
Di Athena, Marcello Lippi, Gerard Houllier, dan Arsene Wenger menunjukkan apresiasinya, setidaknya kepada panitia, oleh satu hal: tak disejajarkan dengan Jose Mourinho. Antusiasme mereka menyambut laga AC Milan vs Liverpool mirip orang awam, penonton biasa, dan sepakat mengepak egonya sebagai gods of football ternama di muka bumi.
Malam ini ada 30 ribu orang Inggris di penjuru kota, beber Lippi pada istrinya sambil mengetuk-ngetuk cerutu.
Pendukung Milan kayaknya tegang, timpal sang istri.
Tak lama, asap lisong dari mulut Lippi mulai mengitari sekelilingnya. Di sebelah kanan Lippi duduk Houllier, eks manajer Liverpool yang barusan mengaku boring menangani Lyon karena tak merasakan persaingan berarti di Prancis. Di sampingnya lagi bercokol teknokrat Arsenal, Arsene Wenger.
Di luar stadion, dua per tiga fans Liverpool bergemuruh, yang mengingatkan Yunani pada invasi bangsa Visigoth. Partisan Liverpudlian memenuhi dua kawasan basis Grande Bretagne (Great Britain) dan Syntagma Square. Meski dengkul gemetar, polisi Athena tetap memelototi agresivitas mereka. Sementara, sepertiganya lagi di dalam, terus menyanyikan Youll Never Walk Alone, yang perlahan kerap diikuti Lippi.
Pertandingan dimulai. Ternyata janji sang hati sulit dipegang. Ketiganya memang tidak berjingkrakan. Tapi, tetap saja, seorang pelatih kalau menonton bola gestuur-nya pasti tak seperti orang awam, terutama pola pikirnya. Lippi seperti yang sering dilihat, duduk diam dengan keeleganannya.
Houllier kebalikannya. Kepalanya maju mundur bak kura-kura tengah menghadapi predator. Lazimnya dia, resah menyelimutinya, terutama kalau passing Liverpool macet atau salah arah. Acapkali, Houllier bergumam sendiri dengan bahasa Prancis. Komentarnya, seperti yang dihafal fan Liverpool, terlalu basa-basi kalau tak pantas disebut norak. Ia jadi begitu sebab kelamaan tak berada di Italia atau Inggris.
Gerrard memberi dinamika dan energi permainan, tukasnya pada Lippi, yang kadang dilakukannya sambil tersenyum.
Dia bukan pemain defensif, lho, ucapnya di menit berbeda di mana mimik Lippi mulai menyeringai.
Wah, Pirlo memang permatanya Milan, puji Houllier saat gol perdana datang, kali ini tak berharap Lippi menoleh.
Houllier selalu begitu. Tak seperti kebanyakan pelatih dari Prancis, ia dikenal ekspresif dan senang menghidupkan suasana. Ia tak jera pada dua hal itu yang menjadi penyebab gangguan jantungnya saat berada di Anfield.
Waktu itu, pola pikirnya terlalu maju untuk klub berkebudayaan ortodoks. Uniknya selama menangani Lyon, Houllier malah jauh lebih anteng. Ia memang hanya butuh tempat dan waktu yang tepat serta menjaga kesehatannya. Jangan-jangan, dia malah lebih fleksibel dibanding Lippi atau Wenger.
Anda setuju, teknik Milan lebih halus dari Liverpool? begitu tanya Houllier pada Lippi saat jeda yang diiyakan Lippi.
Barangkali Lippi lebih cocok auranya dengan Wenger. Bukan saja dari kesamaan ekspresi diamnya itu, tapi juga isi kepala masing-masing. Lippi seolah bisa merasakan dinamika dan energi di diri Wenger meski sepanjang pertandingan rautnya full muram dan semi marah.
*******
Ketika Pippo Inzaghi mencetak gol pertama, Wenger tampak mengangguk-angguk. Nah, apa saya bilang, serunya. Lalu dia menguji Lippi dengan bertanya siapa menurutnya yang jadi man of the match. Dida! sambut Lippi tanpa ragu.
Walau unggul 1-0, keduanya belum yakin Milan bisa juara sebab Liverpool butuh gol balasan untuk membalikan keadaan. Peluang emas Gerrard dipatahkan Dida, dan di satu momen, bermula dari kejelian Dida pula, yang membuat Kaka sukses memberi umpan matang pada gol kedua Pippo yang memastikan kemenangan.
Laga penuh taktik. Sangat efektif, timpal Wenger.
Houllier sibuk menjadikan dirinya sebagai fan abadi Liverpool. Ia kesusahan mengendalikan emosinya. Di menit 80, kala Carlo Ancelotti akan mengganti pemainnya, dia kembali mengagetkan. Kaladze memang yang tercepat dari beberapa pemain, ungkapnya.
Lihat, itu Kaladze! kata Lippi rada surprise melihat bukan Paolo Maldini yang diganti, melainkan Marek Jankulovski.
Usai menang 2-1 atas Liverpool, Lippi tampak bahagia mengingat enam pemain Milan malam itu juga pernah membahagiakannya di Berlin 2006. Namun, tak digantinya Maldini terus menggoda pikirannya. Setahun lalu selama sebulan berjuang di Jerman, ia nyaris menyesal karena tak memaksanya. Beruntung ia punya Marco Materazzi.
Keterkejutan Lippi bersifat lateral dan mendalam. Sejak lama ia kagum pada Milan untuk satu hal: terobosan tim medisnya. Menurutnya, itulah awal sukses Milan. Lippi menyoroti The Milan Lab, laboratorium yang memadukan seluruh iptek olahraga, informatika, sibernetika, dan psikologi berteknologi tinggi yang dibangun sejak Juli 2002.
Kalau lembaga riset yang menjadi pusat medis, terapis dan rehabilitasi fisik dan mental itu mampu kembali meremajakan Maldini di lapangan hijau sampai 38 tahun, bahkan Billy Costacurta mencapai 41 tahun, barangkali Lippi boleh menduga Milan Lab tengah memprogram agar Kaka bisa main hingga 2025.
Seperti halnya Lippi, baik Houllier dan Wenger juga maestronya psycho-physical di sepakbola. Kebetulan, selain Milan dan FC Internazionale Milano, Arsenal juga memiliki tim medis sepakbola terbaik di dunia. Menjadi suratan takdir, Wenger adalah pewaris tunggal instalasi fisioterapis pertama di era modern yang dibangun manajer Arsenal 1925-1934, Herbert Chapman.
Inter adalah pihak yang pertama kali mendeteksi Nwankwo Kanu mengidap kelainan jantung. Padahal tiga tahun ia main kesetanan di Ajax. Walau ketiban pulung, selama tiga tahun cuma mengobatinya, Inter meraih reputasi. Ketika dinyatakan sembuh, Kanu dilego di mana hanya Wenger yang berani menghadapi risiko.
Perhatikan apa yang dilakukan Milan pada Maldini. Begitu taktisnya, sampai banyak yang lupa bahwa dia telah uzur untuk ukuran pemain bola. Saat ia mengangkat trofi, rasanya tahun bukan di 2007, nyaris sama dengan Maldini di 1987. Milan Lab telah bekerja memenuhi targetnya.
Tengok pula enerjiknya Pippo, finisher sejati berumur 33 tahun namun beraksi 10 tahun lebih muda. Setelah diterapi khusus di Milan Lab, Pippo tampil mengejutkan demi target puncak musim ini satu-satunya motivasi, seperti halnya Gli Azzurri di 2006, untuk membangun confidenza usai didera kasus Calciopoli.
*******
Dia absen di Istanbul 2005 karena cedera lutut, tapi Athena 2007 adalah kota pentahbisan bagi Inzaghi. Secara tradisional, publik suka memusuhinya dengan pelbagai alasan. Ia distempel sebagai tukang tipu, cengeng seperti perempuan, sampai tak mengerti aturan offside.
Dua golnya ke gawang Liverpool amat tipikal. Gerakan memutarnya kurang dari satu detik selepas freekick Pirlo sulit dibayangkan. Gol pertama itu bak diukur. Gol kedua, 99 persen mirip. Sebelum bertindak, ia mengukur dulu posisi lawan. Dalam hitungan sepersekian detik pula ia melesat bak anak panah yang terlepas dari busurnya.
Mengikuti strategi permainan, maka mengakali offside adalah kata kunci partai final. Hal ini sekalian merevisi ucapan Alex Ferguson yang pernah menyebut Pippo born to offside. Bisa jadi Johan Cruijff juga tengah merenungi keefektifan striker yang pernah ia bilang Pada dasarnya dia itu bukan main bola, kecuali selalu dalam posisi yang tepat.
Milan Lab, yang di dalamnya berisi profesor-profesor psycho-physical; kedokteran, psikologi sampai ahli bedah, mampu membuyarkan teori Pippo. Karya Milan Lab tersukses lainnya adalah Andrea Pirlo, setelah di-overhaul dari kerongsokan mental. Ia termotivasi, seolah terlahir kembali dan membuat orang terjaga menyaksikannya.
Lewat Milan Lab pula Clarence Seedorf meraih kembali kepercayaan dirinya. Karier si King Kong, begitu julukannya, sempat collapse lantaran depresi simultan sejak dari Ajax, Sampdoria, Real Madrid sampai Inter. Seedorffasih ngomong Spanyol, Italia dan Inggris selain Belandapunya kelainan mirip megalomania dalam berkomunikasi, terlalu kritis, humor yang keterlaluan hingga kesulitan menyetir mobil.
Ujung-ujungnya, meminjam ungkapan Simon Zwartkruis, penulis biografinya, Seedorf dianggap terlampau cerewet dan selalu mencampuri urusan orang. Saat di Madrid, ia pernah didamprat Fabio Capello lantaran ikut menjelaskan taktik permainan. Silakan jadi pelatih, jika anda sudah yakin lebih pintar dari saya!
Hanya Milan yang mau mengerti dirinya. Di Milan Lab, ia ditangani khusus Bruno De Michelis, seorang pakar psikologi yang mengharamkan Seedorf berlatih fisik sampai jangka waktu tertentu. Ancelotti mengerti. Demi seorang Seedorf, seluruh skuad termasuk para pelatihnya, juga kena getahnya yakni harus mengikuti serangkaian psikotes.
Kehidupan tak melulu soal uang, nafsu atau ambisi. Pesepakbola, juga manusia biasa, yang butuh perhatian, motivasi dan ketulusan. Kini, dia sudah mau mendengar ucapan saya, kata Kak seolah membuka rahasia suksesnya bersama Seedorf membobol empat dari lima gol ke gawang Manchester United.
Waktu terus berjalan. Mulai hari esok, tanpa ilmu dan teknologi, atau cuma berbekal tradisi atau sentuhan Midas, apapun usaha lambat laun menemui kegagalan. Tingkah Lippi, Houllier dan Wenger selama menonton bola, sesuai observasi seorang wartawan sepakbola senior selama 2 jam di Spiridon Louis, menjadi refleksi permainan di masa depan.
Hal penting yang patut diambil sebagai pelajaran dari Athena 2007 bahwa untuk menjadi pemenang, tak harus mengorbankan hal-hal yang justru paling mendasar. Dont change the winning team, dan orang Italia amat percaya dengan istilah ini. Untuk memenangkan Liga Champion, Milan cuma butuh tim yang biasa-biasa saja, pemain yang itu-itu lagi
Simichi_K
07-16-2007, 08:53 PM
Premier League Bukan Serie-A
Inggris telah menggantikan Italia sebagai pusat finansial sepakbola dunia. Jadi, apakah itu berarti Premier League juga ditakdirkan untuk tenggelam dalam lautan korupsi seperti yang terjadi di Serie-A? Pemikiran seperti itu nyaris bersifat rasis.
Pemikiran seperti itu menunjukkan adanya sesuatu yang memalukan tentang Italia dan Inggris yang tidak terkontaminasi. Saya akan membeberkan ide lama tentang British Fair Play nanti.
Yang pertama, perbedaan. Apa yang berubah di dalam klub-klub Inggris adalah kepemilikan. Separuh dari 20 klub anggota EPL telah dimiliki oleh orang-orang asing atau sedang menuju ke arah sana.
Manchester United, Liverpool, dan Aston Villa sekarang adalah property pengusaha asal Amerika Serikat. Sebagian besar saham Everton adalah milik orang AS. Arsenal juga sedang dikejar oleh pengusaha dari negara itu. Chelsea dan Portsmouth milik Rusia.
Orang Mesir adalah pemilik Fulham, para bankir Islandia ada di balik West Ham. Ketika saya menulis kolom ini, Manchester City sedang menjalani negosiasi dengan eks PM Thailand, Thaksin Shinawatra. Dan, sedikitnya tiga klub lainnya menolak untuk dibeli pihak atau mungkin saja mereka sedang menunggu harga yang tepat.
Kita bicara tentang permainan para miliarder dan tidak terlalu banyak miliarder yang juga filantropis. Mereka mengingini pamrih, keuntungan. Adalah Lars-Christer Olsson, eks chief executive UEFA, yang pertama kali melontarkan subyek potensi praktik pencucian uang melalui transfer pemain.
Olsson mengemukakan itu ketika Carlos Tevez dan Javier Mascherano tiba di West Ham. Perjanjian awal menyebutkan kedua pemain itu berstatus loan. Makelarnya adalah orang Iran dan kemungkinan akan diteruskan kepada investor dari Rusia dan Amerika Selatan. Namun, semuanya tidak terbukti. Hingga sekarang tidak terselesaikan.
Bahkan, dengan adanya kenyataan bahwa beberapa klub EPL terdaftar di Bursa Efek London, toh transparansi keuangan terkadang menjadi hal yang dilewatkan demi kepraktisan.
Jika uangnya tersedia dan para direktur memang ingin menjual klub, maka perjanjian akan berlanjut.
Oleh karena itu, ketika Keluarga Glazer meminjam ratusan juta dolar untuk membeli Manchester United, kekhawatiran para suporter yang keluarganya telah mendukung klub itu selama puluhan tahun menghilang.
Ketika Wigan, Charlton, Fulham, dan Sheffield United menantang legalitas Tevez membantu West Ham terhindar dari degradasi, Premier League berusaha untuk menutup mulut mereka.
Premier League selalu mengatur dirinya sendiri. Jika tidak demikian, maka itu berarti mereka harus berada di bawah Football Association yang kemudian bertanggung jawab kepada UEFA dan FIFA. Namun EPL, secara efektif, 20 tim yang menjadi anggotanya, dan Richard Scudamore chief executive Premier League selalu siap untuk membuat semua presiden klub senang.
Scudamore melakukannya dengan menaikkan uang hak siar televisi. Dia baru saja sukses menjual EPL sebagai best brand di dunia ke lebih dari 200 negara. Penjualan itu bernilai 2,7 miliar pound yang dibagi untuk 20 klub selama tiga musim.
Pembagiannya kurang lebih sama; kurang untuk klub yang memiliki status sebagai klub kecil; lebih untuk klub-klub top. Rata-rata tiap klub mendapat minimal 30 juta, sementara klub juara, Manchester United, mendapat ekstra 10 juta dan setiap klub mendapat hadiah uang dengan nilai yang semakin sedikit jika posisinya semakin ke bawah.
Ada yang menyarankan agar FA yang namanya muncul di samping nama sponsor, FA Barclays Premier League seharusnya mengatur EPL dan sekaligus mendapat akses untuk setiap catatan uang masuk dan keluar.
Well, itu bagus sebagai bahan tertawaan sinis. FA sudah sangat sibuk dengan mencari uang untuk membayar biaya pembangunan stadion paling mahal di dunia, berusaha membayar Sven Goran Eriksson dan penerusnya Steve McClaren, sebab kesalahan manajemen yang dilakukan FA menghasilkan dua gaji sebagai manajer.
Tugas FA seharusnya adalah menjaga grass roots sepakbola Inggris. Mereka mengatur hukuman untuk pemain macam Joey Barton yang masuk kategori penjahat bersepatu sepakbola. Kami juga masih menunggu aksi macam apa yang akan dilakukan FA untuk menggelontor agen-agen jahat yang mengeruk uang jutaan pound untuk transfer ilegal. Bahkan, meski telah melakukan penyelidikan selama 18 bulan oleh sebuah tim detektif yang dimiliki oleh eks kepala polisi Metropolitan London, toh masih juga kesulitan untuk menyebutkan nama-nama agen itu.
Setiap kali saya menyebut soal pengaturan pertandingan di Italia atau skandal narkoba di beberapa surat kabar di dunia, saya mendapat banyak email yang bernada tidak setuju dari kedutaan-kedutaan besar Italia. Beberapa menyangkal bahwa sebenarnya memang ada masalah di sepakbola Italia.
Beberapa, yang saya tanggapi dengan serius, menanyakan siapa orang Inggris yang berani-beraninya menjelekkan sepakbola Italia. Sejujurnya, pembelaan yang diangkat oleh orang Itali adalah di mana-mana ada yang namanya skandal penyuapan mulai dari Kamboja sampai Cina sampai Jerman sampai Polandia sampai Rusia, bahkan juga di Inggris.
Benar, seratus persen benar. Kepemilikan asing tidak mengkorupsi sepakbola Inggris dalam semalam. Bahkan manipulasi terselubung berbentuk transfer pemain kelas dunia seperti Tevez dan Mascherano bukan barang baru, di mana pihak ketiga membeli dan menjual pemain seperti layaknya rumah tua.
Pemain-pemain itu pastilah budak-budak terkaya dalam sejarah.
Inggris juga tidak lebih murni dibanding murni. Tidak pernah. Inggris pernah menghadapi pengadilan pengaturan pertandingan setengah abad lalu, melibatkan Sheffield United. Saya juga mendengar akan ada lebih banyak yang akan diselidiki di Juventus dan juga sepakbola Italia yang terpolusi dari atas sampai bawah.
Namun, hanya karena EPL memiliki lebih banyak penonton dan juga keuntungan, bukan berarti kami bisa mengadopsi sikap sombong.
Pada 1960, 47 tahun yang lalu, Alan Hardaker, ketika itu adalah sekretaris Football League FA, mengatakan: Orang-orang sepakbola adalah orang-orang yang lucu. Mereka bisa saja bagus dalam menjalankan kerja mereka, setia pada anak dan istri, namun jika sudah menyangkut sepakbola mereka akan mencoba untuk melanggar setiap aturan yang ada dan mengklaim bahwa mereka melakukan itu untuk kebaikan klub. Meski demikian, tetap ada orang-orang yang taat aturan di sepakbola. Tugas utama adalah mencari mereka dan jadikan mereka teman, untuk melawan orang-orang munafik.
Akan semakin bertambah munafik jika semakin banyak kata-kata yang diungkapkan, namun masa depan EPL tidak akan diubah oleh banjir uang yang datang. Hanya saja, pertaruhannya akan semakin tinggi.
Lord_man
08-24-2007, 01:58 AM
Tak sedikit yang mengakui bahwa membuat pukulan Hole-in-One sulitnya setengah mati. Tapi nyatanya pegolf buta pun bisa melakukannya.
Sheila Drummond namanya. Pegolf wanita asal Amerika itu membukukan hole-in-one di Mahoning Valley Country Club di Lehighton, Pennsylvania pada Minggu (19/8/2007) lalu waktu setempat.
Wanita berusia 53 tahun itu bermain bersama suaminya, Keith, dan dua temannya di lapangan yang sudah cukup dikenalnya.
Seperti biasa, dengan panduan suaminya Keith, Drummond melepas pukulan driver ke arah tiang dari jarak 114 yard (sekitar 157,6 meter). Namun di luar perkiraan banyak pihak, bola hasil pukulannya itu langsung masuk ke lubang setelah sebelumnya menyentuh tiang bendera.
"Saya memukul bola dan salah satu lawanku bilang: 'Oh, pukulan yang hebat'," tandasnya kepada Reuters.
"Lalu dia bilang: 'bakal ke green nih, tapi tunggu, malah masuk ke cup!' Kami semua mendengar bola mengenai tiang dan kemudian saya bertanya: 'Kalian yakin bola masuk ke lubang?"
Drummond dkk pun langsung menuju hole tersebut untuk memastikan 'keajaiban' itu. "Setelah itu saya baru mengetahui saya baru saja melakukan pukulan hole-in-one pertama saya," ujar wanita yang sudah mengalami kebutaan sejak 1982 itu karena diabetes.
Sejarah pun mencatat namanya sebagai pegolf wanita buta yang pertama mencatat hole-in-one. Namun untuk di sektor putra, "sudah ada beberapa pegolf pria buta yang pernah melakukannya," demikian penegasan Drummond yang mulai bermain golf sejak 15 tahun yang lalu dan mencatat 44 handicap itu.
Powered by vBulletin™ Version 4.1.3 Copyright © 2013 vBulletin Solutions, Inc. All rights reserved.